Senin, 12 Mei 2008

THIS IS SOUTH SUMATERA STYLE, NDUK..







Itu yang dikatakan Bang Iwan (Sutan Iwan Soekri Munaf), penyair yang tanpa sengaja saya temui di Palembang. Mungkin ini cara Allah mempermudah liputan saya, hingga Bang Iwan dikirim-Nya untuk menemani saya ke pelosok Muara Enim. Kalau dilihat dari plang hijau penunjuk arah, Palembang - Muara Enim sejauh 186 km. Tapi karena saya masuk ke pelosok2, speedometer mobil menunjukkan angka 380 km PP. Dari jam 9 pagi sampai jam 10 mlm.

Bagi saya, meliput suatu daerah, bertemu dengan orang - orang di pedesaan selalu memberikan pelajaran hidup tersendiri. Kali ini saya bertemu dengan petani nanas palembang (yang sebenarnya nanas Prabumulih), Bpk Narman dan keluarganya. Perlu ada catat, untuk sebuah nanas yang dari Pak Narman dijual Rp 1400, dibutuhkan waktu 18 bulan menunggu buah nanas masak di pucuk pohon. Selama itu, Pak Narman harus menjaga nanas - nanas itu dari serangan babi hutan. Alhasil, ketika nanas mulai berbuah, Pak Narman menjaga di malam hari. Menjaga di pos hansip komplek rumah itu saja sudah cukup menjengkelkan, Pak Narman ini harus berdiam diri di gubuk panggung yang dibangun di tengah kebun nanas, 2 km dari perkampungan. Berdiam diri,hanya ditemani nyamuk..tak tanggung - tanggung, karena Muara Enim daerah rawa, nyamuknyapun berlabel malaria.

Dengan upaya kerasnya, Pak Narman bisa menghidupi anak - anaknya. Salah satunya Minah yang mengantar saya dan Bang Iwan ke kebon. Minah ini gadis usia 14 tahun, kelas 3 SMP yang ramah dan malu - malu. Dia yang menjadi penerjemah wawancara saya dengan ayahnya. Melihat antusias Minah, saya ingat masa kecil saya seusianya. Pas saya tanya, Minah kamu suka baca ? "Suka..suka banget'. Novel apa yang kamu baca ? "Buku Pelajaran Bahasa Indonesia'. Oh...
Liputan itu sampai malam,Bang Iwan mengantar saya ke sentra duku Palembang (yang sebenarnya duku Muara Lawai, ini masuk Prabumulih). Selesai liputan jam 5 sore. Saya berniat mencari travel karena saya rasa Bang Iwan sudah lelah nyetir plus masuk - masuk kebon nanas.

"Heh...this is South Sumatra, Nduk. Bukan Kebon Jeruk. Sudah, saya antar kamu sampai Palembang. Mana bisa aku melepasmu." Awalnya, saya hanya menganggap perkataan itu hanya bentuk perhatian bagi seorang kawan yang datang dari jauh. Hari ini, saya merasakan what kind of South Sumatera Style.

Sehabis wawancara dengan walikota Palembang (yang telah 3 hari bikin janji selalu gagal), saya naik becak mau mencari internet. Si tukang becak sebut saja namanya Mr.Borokotok bilang tigo setengah karena warnet dekat. Naiklah saya dengan gembira. Kayuh demi kayuh, kok saya masuk pasar kumuh (yang saya yakin warnet takkan cocok dibangun di sini), perumahan padat (yang saya yakin juga, tidak ada potensi bikin warnet) dan entah apalagi.

Saya mulai curiga, dan akhirnya saya minta berhenti di tengah jalan. Begitu saya kasih 7000 (dua kali tigo setengah) Mr. Borokotok. minta tujuh puluh limo ribu. Ternyta tigo setengah itu kamuflase untuk 'memeras; sebagai 35 ribu. Mangkel, dongkol, panik diburu deadline, pertengkaran panjangpun berlangsung. Sampai ada bapak - bapak (yang ternyata polisi) mendekati kami. Beliau mau bayar ongkos kalau kurang. Tapi saya gengsi (ini nih sok), makanya saya bilang ke bapak itu kalau everything is oke. But I'm wrong. Saya bayar 35 ribu. ini karena Mr. Borokotok dari awalnya mencak - mencak mengaku bekas napi (I dont care, semakin jengkel saya. Kalo bekas napi, tulis aja di otobiografi lu!Nah, yang bikin saya jatuh Mr. Borokotok Van Napi ngaku menghidupi anak istri bla..bla..bla. ini membuat tiba-tiba saya ingat Sausan, anak saya yang keriting, lucu dan imut di rumah sendirian. Ikhlaslah saya kasih 35 ribu walau ia masuk memelas minta terus.Doa saya, ya Allah, kalau Kau pengin menciptakan lagi makhluk, jangan lagi yang seperti Mr. Borokotok ini.

Begitu Mr. Borokotok Van Napi pergi, saya duduk di pinggir jalan, lunglai dan mendadak lapar. Bener - bener kelaparan karena ternyata saya makan pagi di hotel hanya sebiji model (istilah lain untuk empek - epmepk yang menjadi menu selama 3 hari ini). Datang tukang becak yang baik hati mengatakan, 75 ribu itu pemerasan.Harusnya tadi adik panggil kami. Bbbrhhhh...bagaimana saya bisa percaya, sesama tukang becak ?
"Wah kalau dari Pak Wali, kenapa adik ga tanyo tanyo. Adik kan wartawan (press card masih melilit di pinggang saya) bla..bla.

Iya ya..kenapa wartawan kok tidak nanyo - nanyo? Sebuah pelajaran hidup bagi saya di kota ini, wartawan itu harus tenang dan menerapkan 5 W 1 H
What...75 ribu WHAAATTTT?
Where..dari Kantor Walikota - dekat Hotel duta itu cuman 10 ribu maksimal
Why...sompret, nape lu meres orang dompet tipis, cewek, kecil lagi
When...saat orang lagi berlomba dengan detak waktu deadline, tega teganyo
Who...Mr Borokotok bekas napi ? Di Jakarta malah bekas mayat (katanya rumah kebakaran dan dia ikut kebakar, tapi kok idup lagi)
How...modus kejahatan lu memanfaatkan logal lokal Palembang bakal dikutuk sama Raja sriwijaya, jadi pelengkap candi Borobudiur, sungguh,

Ya, South Sumatera Style...different with Kebon Jeruk Style.

Catatab buat Sausan : Sayang, kamu baik - baik saja ya. Maaf Ibu belum pulang hari ini karena pesawat belum ada. Kamu hati - hati ya, I miss u much...Ayah, Ibu berdiri di jembatan Ampera, nanti fotonya disandingkan di Jam Gadang yah...tapi sayang, ga da ayah di sana :)

Kamis, 24 April 2008

Getar Sayap Lebah


Ketika rutinitas kian menyita sisa hidup kita
Semakin sedikit relung yang tersedia
Untuk sekedar tersenyum, menyapa, bercengkerama
Atau sesekali memperhatikan yang ada di sekitar kita

Irama bising mobil roti di pagi hari tepat pukul enam
RRROTI ROTI...ROTI BBAKAR ROTI UNYIL RROTI MMMANISZZZ
Teriak semangat tukang sayur dengan kangkung dan bayam di pundaknya
SSA A A YUUUURRRRRRR
Nada monoton tukang sol sepatu di atas sepeda yang hanya terdiri dari roda
Seperti nada bosan terdengar pendek - pendek PPOP POP PUK
Ah uang, apa yang kau lakukan pada mereka?

Sesekali dengarkan bisik suara alam
Getar cinta sayap lebah yang dititipi salam si serbuk sari
Untuk disampaikan pada putik pujaan hati
Menggoyang sebutir embun yang tenang di daun mawar

Nada lembut embun yang jatuh di dedaunan
Meluncur anggun menelusuri jejaring urat daun
Terus meluncur meluncur kehilangan pijakan
Mendarat anggun di kubangan air
Tempat kecebong melewatkan sebagian siklusnya
Untuk kelak menjadi pemusik handal
Kung kung koook
Merdu sekali bukan ?

Ketika berdesakan naik angkot dan bisa antar kota
Di pagi hari, wajah segar nampak tegang dalam cengkeram waktu
Di malam hari, wajah kuyu penuh timpukan sandal sang waktu
Ketika aku tak dapat duduk (who care ?)

Dengan Basmalah, Saya pun duduk di tempat paling menuai resiko
Meringkuk tegang di dashboard depan sopir, menghadap para penumpang
Jadilah saya point of interest
Karena kudapati semua muka penumpang menghadapku dengan wajah berminyak
Tapi santai saja, tak perlu GR
Toh semua mata lelap hingga mirip zombie yang duduk di kursi
Cobalah perhatikan sesekali pada posisi saya
Pasti Anda akan ketakutan atau geli luar biasa
Pertanyaan retorikpun muncul : Jakarta, apa yang kau lakukan pada mereka hari ini ?

Begitulah rutinitas yang semakin memadat
Seakan 24 jam tak cukup untuk membagi hari
Tentu Andapun merasakannya
Tetapi semoga tak mematikan rasa Anda

Sayapun semakin khawatir
Masih adakah sedikit ruang di diri saya
Untuk sekedar duduk diam dan melamun

Catatan untuk Sausan : Sayang, lekas sembuh yah ? Betapa rapuh ibu jika kau sakit.

Kamis, 03 April 2008

Sebuah Kebaikan Kecil



Barusan saya membaca Lentera di Majalah Intisari bulan April. Judulnya 'Kebaikan Kecil'. Ceritanya tentang sepasang kekasih yang sedang malam mingguan, lalu melihat teman perempuannya yang dijuluki si katrok gara-gara dandanannya ancur, nekad hujan - hujan. Ia mendapat SMS ayahnya meninggal. Jelas si cewek amburadul itu menjadi tontonan. Lantas sepasang kekasih itu menyelamatkan dengan mempersilakan si cewek naik taksi dan mengantar hingga rumah.

Berselang waktu kemudian, si cewek katrok itu menjadi orang sukses dan cantik. Lantas mengundang sepasang kekasih (yang akhirnya menikah) untuk menghadiri pembukaan salah satu cabang perusahaan. Mereka diminta maju ke atas panggung, diperlakukan istimewa di hadapan para tamu si cewek yang dulu amburadul, kini menjadi general manager perusahaan terkenal.Ia menceritakan 'kebaikan kecil' sahabatnya di hadapan para tamunya. Tentu saja suami istri yang hanya orang biasa itu terharu.

Saya haru membaca tulisan tersebut. Entahlah, itu mungkin semacam cermin dari masa lalu. Dulu penampilan saya mungkin sehancur cewek itu. Rambut yang panjang tak terawat, baju yang seadanya. Bahkan ke kampus tak jarang saya memakai kemeja ayah saya (ini bener..) karena memang tidak ada budget untuk sekedar membeli baju. Apalagi ber-make up seperti teman-teman saya. Untuk bisa bertahan kuliah saja sudah bersyukur. Saking amburadulnya saya, barangkali para lelaki itu lupa kalau saya perempuan. Dari cara memperlakukan hingga olok - olok mereka. Tetapi semua itu saya anggap lelucon (walau kadang menyakitkan). Untung saya masih punya teman - teman di Mapala yang mau menerima saya apa adanya. Kebersamaan kami menjadikan sekretariat yang super berantakan (dulu) dan penuh nyamuk karean ada di tengah hutan kampus, sebagai home sweet home bagiku.

Waktu berselang, saya sudah punya rejeki sendiri dan tinggal di Jakarta. Alhamdulillah untuk membeli baju ketika ingin, sudah ada uang. Saya menikah dan dianugerahi putri terlucu untuk kami.

Suatu siang, teman kuliah saya menelepon. Ia dulu pacarnya teman kos saya yang cantik . Setelah ngobrol lama, akhirnya tercetus kata begini :
"Sekarang kamu kayak apa ? Apa rambutmu masih pecah - pecah kayak dulu ?" Barangkali kalimat itu bercanda. Tetapi saya baru tahu, itulah yang terekam di benaknya. penilaian fisik yang seperti umumnya lelaki punyai terhadap perempuan. Sah saja, itu alami. Hanya saja, apakah tidak ada pertanyaan lain yang lebih bersahabat dibanding itu ?

Terus terang, saya agak kaget dengan pertanyaan itu. Dalam hati saya mengatakan, toh dulu kamu juga tidak masuk dalam daftar lelaki idola versiku. Kalau mau mengingat penampilan fisik yang sungguh saya tak menyukai juga. Tapi bukan itu yang saya ingat dari seorang sahabat dan layak ditanyakan di kemudian hari.

Ketika saya mau 'membalas' tapi ternyata kenyataan dia sudah cukup pahit. Dia batal menikah dengan teman kos saya di detik terakhir pacaran, padahal undangan sudah disebar. Gara-garanya si teman saya tertarik dengan cowok lain. Memang tidak masuk akal, tetapi mungkin itu peringatan baginya, semoga bisa menilai sesuatu dengan lebih bijak.

Saya hanya mengingatkna pada diri saya, siapakah saya sehingga berhak menilai orang dari penampilan fisiknya ? Siapakah saya sehingga bisa merendahkan orang lain ?

Catatan dari Sausan : Ayah, kemarin Sausan jalan2 sama ibu ke kebun raya cibodan dan taman bunga cipanas. Seru deh...tapi pas di cipanas di tempat yang banyak bunga, sausan tertidur. Waduh...

Selasa, 25 Maret 2008

Selamat ulang tahun, sayang..


Tak terasa,
Dua belas purnama kau alunkan nada di rumah mungil kita
Sebuah simponi yang menyadarkanku, aku menjadi seorang ibu

Sayangku,
Kunyalakan lilin angka satu di atas kue bulat
Sebulat pipimu yang senantiasa tersenyum
Sebagai tanda syukur, kita telah melewati tahun pertamamu
Dengan segala kekurangan kami
Semoga engkau tetap bangga dan bahagia
Menjadi sahabat, kekasih dan harapan kami

Hari ini,
Kita bernyanyi bersama sekuat tenaga
Agar rumah menjadi ramai semeriah pesta
Walaupun isinya hanya kita berdua
Karena Ayah ada di seberang sana
Sekali lagi,
Semoga ini bisa menjadi memori indah
Kendati tanpa tempat mewah dan peserta layaknya pesta

Mari bersyukur, Sayangku
Kita rasakan hangat lilin di sini
Karena di luar sana
Masih banyak teman kecilmu yang tak pernah punya lilin
Untuk dinyalakan di hari kelahirannya
Hanya kilau lampu merah
Atau nyanyian sadis knalpot jalan

Selamat ulang tahun, Nak

Catatan untuk Sausan : Aduh, tepat saat ulang tahunmu, kamu demam hingga 39 derajad celcius. Ibu panik, Sayang.

Kamis, 06 Maret 2008

Joint with Orchid Hunter...




Foto : tim PAI Jakarta/Anggrek impian :Macodes /Phaius flavus (?)
Mereka menebarkan pesona yang misterius. Lambang seribu wajah yang mengundang para pecintanya untuk menggapai kuntumnya. Tersembunyi di bali seresah lantai hutan, terpancang di tepian tebing terjal hingga menerusup pada sisa daun busuk.

Orchid berasal dari bahasa Yunani yang artinya alat kelamin laki-laki. Pada jaman itu, mitos tentang anggrek menambah perkasa begitu kuat. Salepi dondurma merupakan salep ampuh jauh sebelum lahirnya Mak Erot. Sedangkan di Indonesia, lahirnya penggemar anggrek lebih sederhana. Berasal dari bahasa Sunda 'anggerik' yang artinya menempel (angrok).

Perkenalan saya dengan anggrek dimulai pada tahun 1999. Ketika Mapala (PMPA KOMPOS) mengadakan inventarisasi anggrek di Gunung Lawu. Selama sekitar 1 bulan, kami menarik garis transek dari lembah hingga puncak Jonggring Saloko (3.900 mdpl). Berawal dari sanalah saya 'tercebur' dalam komunitas yang oleh Eric Hansen disebut Orchid Fiver. Dendrobium jacobsonii yang tergambar dalam cover buku (impian saya..hiks) Orchids Of Java, JB Comber yang ingin kami temui saat itu. Hingga kami terpaksa lari terbirit birit ketika yakin mendengar suara harimau. Padahal sebelumnya sudah dibekali bagaaimana tata krama ketika ketemu harimau. Tatap matanya, jangan membuat gerakan yang mendadak..bla..bla...Dari semua langkah itu, yang paling praktis adalah lari sejauh kaki bisa melangkah heheehe (pa kabar Hery Azn, u remember?)

Beruntung, saya bekerja di tempat dimana hobi saya bisa tersalurkan bahkan termotivasi. saya bersukur, masih diberi kesempatan untuk mengunjungi anggrek di habitat aslinya bersama teman - teman di PAI Jakarta. Dari mereka, saya belajar banyak hal : taksonomi anggrek, persahabatan dan kegilaan.

Catatan untuk Sausan :Kamu hebat, Sayang...di ajak jalan-jalan enggak rewel. Pilek pun jadi sembuh. Aha..agaknya sudah mengalir 'darah' ibu neh. Hayo, Ayah ngiri tidak ? Kita jalan - jalan loh ke Telaga Warna. Btw, HAPPPY ANNiVersarY, AYAH!! March.06.2008.Be my our inspiration...

Selasa, 26 Februari 2008

Masa Kecil Mereka


Cerita masa kecil selalu berbeda setiap orang, dan pasti masa itu takkan terlupakan. Masa itulah yang membentuk sebagian dari diri kita saat ini.

Hari Sabtu kemarin, saya ikut diskusi Karl May di Bentara Budaya. Jujur saya, saya belum pernah membaca satupun buku Karl May. Saya sudah lama tahu, tetapi entah mengapa, saya belum tertarik untuk membacanya. Kata teman, tentang orang Indian dan seru. Kalau tentang Indian, saya hanya ingat Lucky Luke dan 'kawat bernyanyi'yang menembak lebih cepat dari bayangannya. Perlu diketahui, saya memang tidak bisa baca komik, mungkin karena imaginasi saya rendah kali ya...hanya ada dua komik yang bisa saya nikmati yaitu Lucky Luke dan Donal Bebek. Lainnya itu...entahlah, saya merasa kasihan pada yang menggambar. Menggambar komik kan lama, tapi dibacanya cepet...kasihan..itulah mengapa saya tak bisa menikmati komik.

Kembali ke diskusi Karl May, saya tertarik datang karena salah satu pembicaranya Seno Gumira (SGA), yang saya mengagumi karya-karyanya. Benar saja, begitu saya datang, tak satupun saya kenal. Lantas pembicaraan diantara mereka, saya tidak nyambung sama sekali. Akhirnya, saya duduk, diam dan makan (hehehe).Oh ya, begitu SGA datang, sempat menegur (sedikit). Barangkali beliau agak samar2, kok kayaknya manusia satu ini tidak asing. Ya jelas, wong saya kerap melongok ke mejanya di kantor (yang kerap kosong, sembari melongo dengan koleksi bukunya.

Film dokumenter tentang kehidupan Karl May diputar. Sebagaimana saya kerap mengagumi biografi pengarang, sudah saya duga bahwa biografi Karl May memang 'exciting'. Yah, barangkali harus mengalami penderitaan untuk menjadi pengarang terkenal.Karl May belum pernah ke Amerika dan negeri timur yang diceritakan di novelnya, tetapi dalam ceritanya begitu hebat 'menipu' pembacanya. Selain juga petualangan rumah tangganya yang dramatis dari istri ke istri.

Diskusipun berlangsung. Dua pembicara mengatakan hal yang sama, Daniel Dakhidae (Kompas) menceritakan tentang guru SD-nya yang menceritakan buku - buku Karl May hingga menyebabkan murid dua kelas menangis tersedu - sedu di bagian Winnetou IV yang tewas. Lalu beliu membaca semua buku Karl May pada masa itu dan bersumpah, takkan membaca buku selain Karl May.

SGA lain lagi. Beliau membaca Karl May saat masih kecil (kalau gak salah SMP). Buku itu membawanya menjadi pengembara. Bersama temannya pesan sepatu (saya lupa nama sepatunya) lalu menjadi pengembara ke Sumatera, Kalimantan. Hingga akhirnya kehabisan uang dan menelpon ibunya. Dikirimilah tiket pesawat untuk pulang. Kesimpulannya, mengembara itu tidak enak. Tetapi katanya " Menjadi penulis itu bagus, tetapi lebih bagus jika menjadi pengembara" Sedemikian hebat ya pengarus buku...

Sesaat mendengarkan dua pembicara itu, saya begitu iri pada masa kecil mereka yang begitu dekat dengan buku. Jauh sekali dengan yang saya alami. Bukannya saya protes pada orang tua saya, hanya saja buku merupakan benda dari negeri antah berantah yang jika perlu malah dihindari. Ayah saya selalu memarahi saya kalau terlihat banyak membaca,jangan banyak membaca, merusak mata. Pada masa kecil saya, memakai kaca mata sama dengan berpenyakit. Tidak jarang, pertengkaran saya dengan ayah saya terjadi karena buku.

Selain itu, buku yang kami (saya dan ayah saya) kenal hanyalah buku pelajaran. Di luar itu, bahkan saya tidak tahu ada buku pengetahuan populer, buku novel apalagi komik. Barangkali Anda theran jika saya menceritakan ini. Ayah saya menganganggap membaca komik atau novel identik dengan membaca buku porno. Sungguh. Saya dilarang keras membaca komik (dan saat itu mengenal kartu). Mungkin kartu identik dengan judi. Saya ingat betul, saking kepenginnya bisa main kartu 41, saya dan adik saya bikin kartu sendiri. Kertas dipotong - potong, lalu digambari bintang, bunga, ayam dll dengan jumlah yang berbeda. Di situlah kami berdua main kartu.

Waktu SD, saya hanya kenal majalah Bobo dan cerita (kalau itu boleh dianggap novel karena bentuk bukunya) Lima Sekawan. Itu meminjam dari teman saya yang ayahnya guru. Kami berlima waktu itu (yang ikut - ikutan menamakan diri Lima serangkai)bergiliran meminjam Bobo dan Lima Sekawan. Kami masing - masing mendapat waktu sehari semalam untuk membawa pulang majalah Bobo. Giliran saya hari jumat, sementara Sabtu sudah terbit edisi berikutnya. Itupun tak boleh ayah tahu. Karena pernah, saya harus menangis dan ketakutan ketemu teman saya (pa kabar, Aliana...) karena majalahnya disobek ayah saya.

Baru SMA, saya mengenal perpustakaan yang ada di sekolah saya. Itu pun tidak bisa memilih buku. Kami hanya bisa menunjuk dari luar kaca buku - buku yang kami inginkan. Dari sanalah saya mengenal Trio Detektif-nya Alfred Hitchock dan selalu mencarinya. Buku itu begitu memberi semangat saya. Salah satunya, saya tidak minder naik sepeda ke sekolah waktu itu (dimana teman - teman saya hampir 80% naik sepeda motor ke sekolah, yang 20% rumahnya dekat dengan sekolah). Dengan jarak 20 KM-an saya ke sekolah naik sepeda dan tetap semangat karena Jupiter Jones, Pete Crensaw dan Bob Andrews-pun naik sepeda di Rocky Beach.

Kala SD, ada buku pelajaran yang sangat saya sayangi dan mengispirasi 'kegilaan' saya selanjutnya. Buku itu warna biru, judulnya IPA SAINS untuk SD kelas 6. Pada halaman paling belakang ada gambar Einstein sedang menyangga dagu, lalu ada puisinya. Penggalan yang saya ingat :
... namun Pak Einstein amat kecewa. Ilmunya disalahgunakan. Dapatkah kelak kalian mengunggulinya ?

Dari sepenggal kalimat itu, memompa semangat saya. Tak tanggung - tanggung..saya bercita - cita bisa ke bulan ! Di kala teman -teman yang lain bercita - cita menjadi dokter, insinyur dll, cita - cita saya adalah : pergi ke bulan.

Demikianlah, masa kecil saya yang begitu asing dengan buku. Kini saya bersyukur, Allah menjawab doa saya...saya bisa sangat dekat dengan buku, dan bisa sedikit jalan - jalan. Satu demi satu kota dan pulau di Indonesia saya singgahi. Dari Aceh hingga Papua, walau masih banyak tempat terindah-Nya yang belum saya singgahi. Termasuk bulan...

Catatan untuk sausan :
Sayang, ibu selalu berdoa, kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk bersama - sama mendatangi tempat - tempat terindah-Nya. Satu lagi, semampu ibu, ibu akan ceritakan tentang keindahan buku - buku. Semoga kau merasa beruntung datang ke rumah mungil kami, sebagai sahabat, kekasih dan mimpi kami.

Selasa, 05 Februari 2008

Sebelum lelap



Sehelai kelopak mawar lepas dari kuntumnya
Terombang ambing oleh angin keemasan
Menepi di tepi hari
Selamat sore, senja mungilku

Mentari di sebelah rumah kita mulai sayu
Induk domba mengajak anaknya pulang
Kabut turun pelan di lembah hati
Senja hari ini begitu sunyi tanpamu, gadisku

Malam...malam rentangkan hangat sayapmu
Jangan biarkan gadisku lelap dalam gigil
Kutitipkan sebentuk jiwa mungil pada hangat dekapmu
Ketika jemariku masih kaku dalam jarak

Bintang.. bintang, dendangkan cerita senja
Jangan ceritakan kesunyian yang mendera
Sampaikan sebentuk senja emas lengkap dengan kemilaunya
Tidurlah, gadisku...tidurlah dalam cahaya


Untuk Sausan : ibu kangen