Selasa, 25 Maret 2008

Selamat ulang tahun, sayang..


Tak terasa,
Dua belas purnama kau alunkan nada di rumah mungil kita
Sebuah simponi yang menyadarkanku, aku menjadi seorang ibu

Sayangku,
Kunyalakan lilin angka satu di atas kue bulat
Sebulat pipimu yang senantiasa tersenyum
Sebagai tanda syukur, kita telah melewati tahun pertamamu
Dengan segala kekurangan kami
Semoga engkau tetap bangga dan bahagia
Menjadi sahabat, kekasih dan harapan kami

Hari ini,
Kita bernyanyi bersama sekuat tenaga
Agar rumah menjadi ramai semeriah pesta
Walaupun isinya hanya kita berdua
Karena Ayah ada di seberang sana
Sekali lagi,
Semoga ini bisa menjadi memori indah
Kendati tanpa tempat mewah dan peserta layaknya pesta

Mari bersyukur, Sayangku
Kita rasakan hangat lilin di sini
Karena di luar sana
Masih banyak teman kecilmu yang tak pernah punya lilin
Untuk dinyalakan di hari kelahirannya
Hanya kilau lampu merah
Atau nyanyian sadis knalpot jalan

Selamat ulang tahun, Nak

Catatan untuk Sausan : Aduh, tepat saat ulang tahunmu, kamu demam hingga 39 derajad celcius. Ibu panik, Sayang.

Kamis, 06 Maret 2008

Joint with Orchid Hunter...




Foto : tim PAI Jakarta/Anggrek impian :Macodes /Phaius flavus (?)
Mereka menebarkan pesona yang misterius. Lambang seribu wajah yang mengundang para pecintanya untuk menggapai kuntumnya. Tersembunyi di bali seresah lantai hutan, terpancang di tepian tebing terjal hingga menerusup pada sisa daun busuk.

Orchid berasal dari bahasa Yunani yang artinya alat kelamin laki-laki. Pada jaman itu, mitos tentang anggrek menambah perkasa begitu kuat. Salepi dondurma merupakan salep ampuh jauh sebelum lahirnya Mak Erot. Sedangkan di Indonesia, lahirnya penggemar anggrek lebih sederhana. Berasal dari bahasa Sunda 'anggerik' yang artinya menempel (angrok).

Perkenalan saya dengan anggrek dimulai pada tahun 1999. Ketika Mapala (PMPA KOMPOS) mengadakan inventarisasi anggrek di Gunung Lawu. Selama sekitar 1 bulan, kami menarik garis transek dari lembah hingga puncak Jonggring Saloko (3.900 mdpl). Berawal dari sanalah saya 'tercebur' dalam komunitas yang oleh Eric Hansen disebut Orchid Fiver. Dendrobium jacobsonii yang tergambar dalam cover buku (impian saya..hiks) Orchids Of Java, JB Comber yang ingin kami temui saat itu. Hingga kami terpaksa lari terbirit birit ketika yakin mendengar suara harimau. Padahal sebelumnya sudah dibekali bagaaimana tata krama ketika ketemu harimau. Tatap matanya, jangan membuat gerakan yang mendadak..bla..bla...Dari semua langkah itu, yang paling praktis adalah lari sejauh kaki bisa melangkah heheehe (pa kabar Hery Azn, u remember?)

Beruntung, saya bekerja di tempat dimana hobi saya bisa tersalurkan bahkan termotivasi. saya bersukur, masih diberi kesempatan untuk mengunjungi anggrek di habitat aslinya bersama teman - teman di PAI Jakarta. Dari mereka, saya belajar banyak hal : taksonomi anggrek, persahabatan dan kegilaan.

Catatan untuk Sausan :Kamu hebat, Sayang...di ajak jalan-jalan enggak rewel. Pilek pun jadi sembuh. Aha..agaknya sudah mengalir 'darah' ibu neh. Hayo, Ayah ngiri tidak ? Kita jalan - jalan loh ke Telaga Warna. Btw, HAPPPY ANNiVersarY, AYAH!! March.06.2008.Be my our inspiration...

Selasa, 26 Februari 2008

Masa Kecil Mereka


Cerita masa kecil selalu berbeda setiap orang, dan pasti masa itu takkan terlupakan. Masa itulah yang membentuk sebagian dari diri kita saat ini.

Hari Sabtu kemarin, saya ikut diskusi Karl May di Bentara Budaya. Jujur saya, saya belum pernah membaca satupun buku Karl May. Saya sudah lama tahu, tetapi entah mengapa, saya belum tertarik untuk membacanya. Kata teman, tentang orang Indian dan seru. Kalau tentang Indian, saya hanya ingat Lucky Luke dan 'kawat bernyanyi'yang menembak lebih cepat dari bayangannya. Perlu diketahui, saya memang tidak bisa baca komik, mungkin karena imaginasi saya rendah kali ya...hanya ada dua komik yang bisa saya nikmati yaitu Lucky Luke dan Donal Bebek. Lainnya itu...entahlah, saya merasa kasihan pada yang menggambar. Menggambar komik kan lama, tapi dibacanya cepet...kasihan..itulah mengapa saya tak bisa menikmati komik.

Kembali ke diskusi Karl May, saya tertarik datang karena salah satu pembicaranya Seno Gumira (SGA), yang saya mengagumi karya-karyanya. Benar saja, begitu saya datang, tak satupun saya kenal. Lantas pembicaraan diantara mereka, saya tidak nyambung sama sekali. Akhirnya, saya duduk, diam dan makan (hehehe).Oh ya, begitu SGA datang, sempat menegur (sedikit). Barangkali beliau agak samar2, kok kayaknya manusia satu ini tidak asing. Ya jelas, wong saya kerap melongok ke mejanya di kantor (yang kerap kosong, sembari melongo dengan koleksi bukunya.

Film dokumenter tentang kehidupan Karl May diputar. Sebagaimana saya kerap mengagumi biografi pengarang, sudah saya duga bahwa biografi Karl May memang 'exciting'. Yah, barangkali harus mengalami penderitaan untuk menjadi pengarang terkenal.Karl May belum pernah ke Amerika dan negeri timur yang diceritakan di novelnya, tetapi dalam ceritanya begitu hebat 'menipu' pembacanya. Selain juga petualangan rumah tangganya yang dramatis dari istri ke istri.

Diskusipun berlangsung. Dua pembicara mengatakan hal yang sama, Daniel Dakhidae (Kompas) menceritakan tentang guru SD-nya yang menceritakan buku - buku Karl May hingga menyebabkan murid dua kelas menangis tersedu - sedu di bagian Winnetou IV yang tewas. Lalu beliu membaca semua buku Karl May pada masa itu dan bersumpah, takkan membaca buku selain Karl May.

SGA lain lagi. Beliau membaca Karl May saat masih kecil (kalau gak salah SMP). Buku itu membawanya menjadi pengembara. Bersama temannya pesan sepatu (saya lupa nama sepatunya) lalu menjadi pengembara ke Sumatera, Kalimantan. Hingga akhirnya kehabisan uang dan menelpon ibunya. Dikirimilah tiket pesawat untuk pulang. Kesimpulannya, mengembara itu tidak enak. Tetapi katanya " Menjadi penulis itu bagus, tetapi lebih bagus jika menjadi pengembara" Sedemikian hebat ya pengarus buku...

Sesaat mendengarkan dua pembicara itu, saya begitu iri pada masa kecil mereka yang begitu dekat dengan buku. Jauh sekali dengan yang saya alami. Bukannya saya protes pada orang tua saya, hanya saja buku merupakan benda dari negeri antah berantah yang jika perlu malah dihindari. Ayah saya selalu memarahi saya kalau terlihat banyak membaca,jangan banyak membaca, merusak mata. Pada masa kecil saya, memakai kaca mata sama dengan berpenyakit. Tidak jarang, pertengkaran saya dengan ayah saya terjadi karena buku.

Selain itu, buku yang kami (saya dan ayah saya) kenal hanyalah buku pelajaran. Di luar itu, bahkan saya tidak tahu ada buku pengetahuan populer, buku novel apalagi komik. Barangkali Anda theran jika saya menceritakan ini. Ayah saya menganganggap membaca komik atau novel identik dengan membaca buku porno. Sungguh. Saya dilarang keras membaca komik (dan saat itu mengenal kartu). Mungkin kartu identik dengan judi. Saya ingat betul, saking kepenginnya bisa main kartu 41, saya dan adik saya bikin kartu sendiri. Kertas dipotong - potong, lalu digambari bintang, bunga, ayam dll dengan jumlah yang berbeda. Di situlah kami berdua main kartu.

Waktu SD, saya hanya kenal majalah Bobo dan cerita (kalau itu boleh dianggap novel karena bentuk bukunya) Lima Sekawan. Itu meminjam dari teman saya yang ayahnya guru. Kami berlima waktu itu (yang ikut - ikutan menamakan diri Lima serangkai)bergiliran meminjam Bobo dan Lima Sekawan. Kami masing - masing mendapat waktu sehari semalam untuk membawa pulang majalah Bobo. Giliran saya hari jumat, sementara Sabtu sudah terbit edisi berikutnya. Itupun tak boleh ayah tahu. Karena pernah, saya harus menangis dan ketakutan ketemu teman saya (pa kabar, Aliana...) karena majalahnya disobek ayah saya.

Baru SMA, saya mengenal perpustakaan yang ada di sekolah saya. Itu pun tidak bisa memilih buku. Kami hanya bisa menunjuk dari luar kaca buku - buku yang kami inginkan. Dari sanalah saya mengenal Trio Detektif-nya Alfred Hitchock dan selalu mencarinya. Buku itu begitu memberi semangat saya. Salah satunya, saya tidak minder naik sepeda ke sekolah waktu itu (dimana teman - teman saya hampir 80% naik sepeda motor ke sekolah, yang 20% rumahnya dekat dengan sekolah). Dengan jarak 20 KM-an saya ke sekolah naik sepeda dan tetap semangat karena Jupiter Jones, Pete Crensaw dan Bob Andrews-pun naik sepeda di Rocky Beach.

Kala SD, ada buku pelajaran yang sangat saya sayangi dan mengispirasi 'kegilaan' saya selanjutnya. Buku itu warna biru, judulnya IPA SAINS untuk SD kelas 6. Pada halaman paling belakang ada gambar Einstein sedang menyangga dagu, lalu ada puisinya. Penggalan yang saya ingat :
... namun Pak Einstein amat kecewa. Ilmunya disalahgunakan. Dapatkah kelak kalian mengunggulinya ?

Dari sepenggal kalimat itu, memompa semangat saya. Tak tanggung - tanggung..saya bercita - cita bisa ke bulan ! Di kala teman -teman yang lain bercita - cita menjadi dokter, insinyur dll, cita - cita saya adalah : pergi ke bulan.

Demikianlah, masa kecil saya yang begitu asing dengan buku. Kini saya bersyukur, Allah menjawab doa saya...saya bisa sangat dekat dengan buku, dan bisa sedikit jalan - jalan. Satu demi satu kota dan pulau di Indonesia saya singgahi. Dari Aceh hingga Papua, walau masih banyak tempat terindah-Nya yang belum saya singgahi. Termasuk bulan...

Catatan untuk sausan :
Sayang, ibu selalu berdoa, kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk bersama - sama mendatangi tempat - tempat terindah-Nya. Satu lagi, semampu ibu, ibu akan ceritakan tentang keindahan buku - buku. Semoga kau merasa beruntung datang ke rumah mungil kami, sebagai sahabat, kekasih dan mimpi kami.

Selasa, 05 Februari 2008

Sebelum lelap



Sehelai kelopak mawar lepas dari kuntumnya
Terombang ambing oleh angin keemasan
Menepi di tepi hari
Selamat sore, senja mungilku

Mentari di sebelah rumah kita mulai sayu
Induk domba mengajak anaknya pulang
Kabut turun pelan di lembah hati
Senja hari ini begitu sunyi tanpamu, gadisku

Malam...malam rentangkan hangat sayapmu
Jangan biarkan gadisku lelap dalam gigil
Kutitipkan sebentuk jiwa mungil pada hangat dekapmu
Ketika jemariku masih kaku dalam jarak

Bintang.. bintang, dendangkan cerita senja
Jangan ceritakan kesunyian yang mendera
Sampaikan sebentuk senja emas lengkap dengan kemilaunya
Tidurlah, gadisku...tidurlah dalam cahaya


Untuk Sausan : ibu kangen

Kamis, 31 Januari 2008

TETANGGA SAYA MENGIBARKAN BENDERA SETENGAH TIANG


26 Januari 2008, hampir tengah malam,
'Loh kamu tidak tahu to, Mbak...kan hari ini Pak Harto wafat pukul 13.10," demikian kata adik saya yang masih kelas 1 SMP, yang tinggalnya nun jauh di Klaten sana. Perlu diketahui, adik saya itu menyampaikan berita dengan kutipan waktu yang tepat dan dengan nada menyalahkan. Ia menyalahkan saya, masak berita sebesar itu saya sampai tidak tahu. ditambah lagi, Pak Harto itu kan tinggal di Jakarta, sementara saya juga. Jadi kalau ada sesuatu yang terjadi di Jakarta, keterlaluan kalau saya tidak tahu. Saya tahu pasti apa yang dipikirkan adik saya. Bahwa Jakarta itu hanya selebar desa Jiwo Kulon (tempat adik saya tinggal) dimana hanya ada beberapa biji rumah. Dimana ada seekor ayam diare, 5 desa di sekitarnya akan tahu saat itu juga. Tak pernah terbayang di benaknya, bahwa saya tinggal di lokasi yang demikian tidak 'komunikatif. Barangkali kalau di samping saya ada yang meninggal, kalau meninggalnya bukan karena ledakan bom yang menggoncang rumah saya, saya-pun tidak akan tahu.

Demikianlah..ketika saya menyalakan televisi, saya melihat juga berita yang disampaikan adik saya. Tidak susah mencari kronologis peristiwa besar tersebut. dalam waktu singkatpun, 'pengetahuan' saya sudah setara dengan adik saya. Pastilah adik saya sekarang ikut terlarut dalam 'duka' ketika menyaksikan berita. Sementara saya tersenyum membayangkan teman - teman saya yang sudah hampir sebulan ini stand by di RS Pertamina. "Iya nih, saya sampai bed rest gara-gara nungguin berita.." kata teman saya, jusnalis yang lagi hamil. Setelah berita ini, dia sekarang cuti.

Pagi itu, sejak saya masih setengah terjaga...berita detail pemakaman mantan orang nomor satu di Indonesia itu disiarkan. Mulai dari pukul berapa diupacarakan, diangkut hingga ditaburi dengan pasir di Astana Giri Bangun. (tempat ini mengingatkan saya pada ikrar waktu saya masuk Mapala. Kalau ga salah, PMPA Kompos lahir di dekat2 sini. saya kok lupa nama lokasinya).

Ketika saya melihat sekilas prosesi pemakaman itu, semua orang berpakaian hitam. Lalu ada liang lahat dimana terbaring sosok yang puluhan tahun lekat bagi ingatan saya sebagai seorang presiden (sampai sampai kalau menyebut kata presiden itu artinya Pak Harto). Tokoh yang sedemikian terkenal, akhirnya juga terbaring di tempat sempit, gelap dan tertimbun tanah (bagi petugas makam, pastilah dia orang yang paling hebat karena bisa menginjak - injak tubuh Pak Harto disaksikan banyak orang).

Ketika saya berangkat kerja, ada pengamen. Agaknya pengamen ini selalu up to date. Sebelum menyanyi, dia mengatakan prolog bak Rhoma Irama yang mau nyanyi. Kurang lebih begini ' Hari ini kita bangsa Indonesia, kehilangan seorang pahlawan besar..PAK HARTO (kata ini ditekankan pengucapannya). Dulu jaman Pak Harto, segalanya mudah. Beras murah, makanan mudah didapat. Sekolah murah. Saya naik angkot ke sekolah saja hanya bayar 100 rupiah, sekarang 2.500 (kondekturnya mendelik...dulu 100, skr lu gratis..kira2 begitu). Jadi pegawai negeri gampang...sekarang susah..makanya saya hanya bisa ngamen. Katanya reformasi bla..bla..(saya males menuliskannya di sini)" Lalu si pengamen nyanyi '...o..oo..kamu ketahuan, pacaran lagi, dengan dirinya'Saya pun tersenyum...ketika adik saya menganggap Jakarta hanya selebar celana kolor, pengamen ini menganggap segalanya mudah jaman Pak Harto. Tanpa dia tahu, kenapa bisa mudah saat itu. Ingin rasanya saya katakan yang saya tahu tentang kenapa masa itu segalanya murah, kenapa masih ada yang dendam dengan dengan lelaki ramah itu, kenapa....Lalu bis 45 jurusan cimone - blok M yang bobrok minta ampun pun tetap melaju.

Begitulah, seperti kata Iwan Fals..dimana kusembunyi, namun senyummu slalu mengikuti..dimana-mana ada 'smiling general'.Hingga larut malam..hingga esok harinya dan esoknya lagi. Tadi pagi, saya dengar talk show di sebuah radio..begini :
'Jadi apakah kasus perdata Pak Harto bisa dilimpahkan ke ahli warisnya ?"
'Bisa. Tetapi harus ada sidang legal yang menetapkan siapa saja ahli waris Pak harto. Demi hukum, kita tidak bisa mengatakan kalau Pak Harto yang kita tahu anaknya 6 itu ahli waris. harus ada surat resmi bahwa 6 orang anak itu ahli waris'
(Saya tak tahu hukum, tapi sebagai warga biasa, bukankah akta kelahiran itu sudah merupakan bukti sah sebagai ahli waris ? Masak sih anaknya Pak Harto ga punya akte?)
"Lha..kalau anak belum tentu ahli waris, berarti masih butuh sidang lagi song untuk menetapkan siapa saja yang berhak mendapatkan warisan harga Pak harto ? ' tanya wartwan. Nah. loh!

Demikianlah, masih rumit dan berbelit -belit. Sayapun membuka jendela, kulihat, tentangga saya mengibarkan bendera setengah tiang.

Catatan untuk Sausan : Sayang, pagi tadi bunga hoya di depan rumah kita mekar. Ada 6 kuntum, kecil-kecil, bulat dan berwarna putih bersih. Dihiasi embun, bunga itu jadi indah sekali. Sayang kamu tidak melihatnya yah..Besok sore ibu mau ke Padang, ketemu ayah. Sausan titip salam tidak ? Minggu besok ya, kita ketemuan...miss u my litle sunset..

Kamis, 24 Januari 2008

18 Januari 2008



Pagi kala kabut masih menyelimuti, 18 Januari 2008...
Tanggal 18 Januari merupakan hari istimewa bagiku karena setiap tanggal ini selalu mengingatkan akan bertambahnya usia. Kali ini menjadi lebih istimewa karena pergantian dari kepala dua menjadi kepala tiga..hah ?! 30 tahun ! Gile...perasaan baru kemarin saya SMA. Kalau melihat orang tua saya dulu, 30 tahun kesannya tua banget...pas mengalami, kok ya belum merasa tua (dan memang harus begitu hehehe).

Terima kasih ya Allah, atas waktu yang telah Engkau berikan hingga hari ini. Semoga waktu yang Kau berikan tidak sia - sia...

Kadonya ? Hah..apa itu harus ? Saya sudah terbiasa untuk tidak berharap pada orang lain. Saya hanya memejamkan mata, bernafas sedalam - dalamnya, merasakan bahwa saya benar - benar masih diberi nafas hingga tambah usia saya, lalu menghembuskannya dengan harapan...semoga esok lebih baik. Itu saja.

Saya selalu mengingat apa saja yang terjadi di hari itu setiap tahunnya. Ibarat puzzle, 18 januari setiap tahunnya selalu menghadapi hal yang berbeda, warna yang berbeda. Kalau saya membaca catatan saya di setiap tanggal 18 januari, di sana tergambar 'pertumbuhan' saya. Jika tahun lalu ada tumpeng mungil dan tiup lilin dengan suami saya plus Sausan yang masih meringkuk di perut, kini saya hanya sendirian.

Lebih sendirian lagi ketika...
Pagi itu tetangga saya mengetuk pintu pagar saya. Seperti biasa, tentangga satu ini kalau mengetuk pintu pagar, itu artinya meminjam cangkul. Dari sekian tetangga yang berpotensi punya cangkul, dia lebih memilih cangkul saya. Bener saja, hanya kali ini alasannya beda. Bukan untuk menggali selokan, mencabut rumput dll.
"Untuk ngubur kucing teh..ada kucing mati kena racun tikus," katanya dengan logat sunda yang kental. Tiba - tiba perasaan saya jadi tidak enak.
"Kucingnya warnanya apa, Bu ?" tanya saya paranoid.
"Item sih," katanya chuek sembari menerima cangkul saya sembari berlalu
"Ada putihnya tidak ?" teriak saya panik.
"Ada sih," jawabnya sambil lalu. Bener ! Pagi ini, 18 Januari, Lemot tidak ada di depan pintu seperti biasanya. Tiba - tiba lutut saya lemas. Saya tidak berani mendekat. Dari jauh saya liat ada tubuh yang ditenteng dalam tas plastik putih. Saya yakin, itu Lemot...

Lengkap sudah kesendirian saya. Hanya kecoak, kipas angin dan air kran yang bergerak di rumah ini. Satu -satunya teman yang menemani, pergi karena kelalaian saya. Karena malam terakhir itu, saya masih ingat memegang tengkuknya untuk saya letakkan di luar karena teman saya yang kebetulan datang tak suka kucing.

Ketika saya cerita ke ibu saya, ibu saya malah tertawa. "Kan hanya kucing saja !" Memang hanya kucing, tapi kalau kucing itu teman satu - satunya, tidak lagi menjadi 'hanya'. Setiap kali saya pulang, ketika kucni pagar saya buka, saya selalu berharap ada yang nyelonong di kaki saya seperti biasanya. Tapi hal itu tak pernah terjadi lagi...Mr. Lemot, thanks telah menemani saya selama ini...

Catatan untuk Sausan : Sayang, apa kabarmu ? Gigimu sudah kelihatan belum ? Udah Bisa gigit apa ? Kau ingat Mr. Lemot ? Saat kamu umur 7,5 bulan di kandungan, Ayah dan Ibu ambil Mr. Lemot di warung kelapa hijau. Waktu itu susah banget membawanya, akhirnya diletakkan di kardus dan ibu pangku. Ketika kamu gera, Mr. Lemot meronta- ronta. Ibu ingat, sering kali kamu, Ayah dan Mr. Lemot berkolaborasi tidur di kamar biru. Ukuranmu sama Mr. Lemot hampir sama.Sekarang ketika kamu sudah merangkak, kamu suka nari-narik ekornya. Tentu saja Mr. Lemot pasrah. Sepasrah ketika racun tikus membunuhnya....Miss u, little sunset..

Senin, 14 Januari 2008

PAK HARTO, KURA - KURA DAN BATU

Beberapa hari ini, semua media (tak terkecuali media hiburan yang biasa membahas artis) sibuk memantau kesehatan Pak Harto. Bahkan teman saya hingga tidak pulang beberapa hari karena menunggu 'keputusan'. Sampai saat ini, Dia masih belum mengambil keputusan. Saya tidak tahu, apakah teman - teman saya akan terus begadang...

Melihat kondisi mantan orang nomor satu di negeri ini (yang waktu kecil saya-pun bercita-cita bersalaman dengannya, sungguh :) ), saya menjadi berpikir, apakah arti semua yang telah ia miliki ? Yang saya yakin, semua itu didapatkan dengan tidak mudah bahkan mungkin menyulitkan orang lain. Hingga di senja usianya, di samping malaikat maut, sebelum menghadapi pengadilan yang Maha Adil, dia masih harus menghadapi pengadilan kasad mata alias meja hijau.

Lantas, saya menemukan blog Mbak Dewi Lestari- yang penulis pinter itu- (www.dee-idea.blogspot.com). Ceritanya sederhana sekali, tentang anaknya - Keenan yang menumpulkan batu di pinggir selokan. Batu yang sudah banyak digenggaman tiba - tiba berantakan kala ia terpeleset. Betapa segala yang kita miliki bisa lenyap hanya dalam sekejap. Tak peduli bagaimana kita menggenggamnya, bahkan hingga tangan kita berdarah

Apalagi ketika 'batu-batu' yang kita kumpulkan itu didapatkan dengan merugikan orang lain, menginjak teman. Apakah itu sebuah kemenangan ? Saya ingat tulisan SGA di Kompas, Catatan Desember 'Kura-Kura'. Sederhana saja, intinya ada dua kura - kura yang bersaing hingga satunya mati. Lalu kura-kura itu sendirian di dalam akuarium. SGA hanya menanyakan Apakah arti hidup bagi kura-kura yang telah menguasai dunia itu, jika sisa hidup, yang barangkali masih akan lama, dijalani sendirian saja ?

Ah, betapa menyedihkan diri saya selama ini, ketika mengedepankan ego hanya untuk sebuah nama, sebuah kemenangan semu, sebuah pujian. Bukankah kemenangan yang sesungguhnya ketika kita bisa mengalahkan ego kita ? Saya masih harus belajar untuk itu.

Catatan untuk Sausan : My little Sunset, kemarin kakek mengabari ibu, gigimu sudah tumbuh dua di bagian bawah. Ibu mau menangis, ah...pasti kamu lucu sekali. Ayah juga seneng banget ketika ibu kabari. Maaf, Sayang..ibu sempat membandingkanmu dengan bayi yang lain, kenapa gigimu tidak tumbuh-tumbuh.