Kamis, 26 Juni 2008

Kepada Roh Pagi


Yang terjaga ketika nafas lain terlelap
Yang bangun sebelum fajar merah
Yang berpeluh di antara gemuruh pesta
Yang berjasa menjadikanmu bertahta
Yang tegar walau tanganmu mencakar
Yang ingat kala kau lupa

Roh Pagi,
Masih memekarkan bunga - bunga padi yang menghidupi
Memompa oksigen ke paru - paru bumi
Memberi energi pada penghuni hari
Tak peduli Republik tak memberi arti
Pada perjuangan Roh Pagi

(Untuk kawan, tetangga atau seseorang entah dimana
Yang tak lelah menjaga
Sebentuk hidup di pertiwi kita)

--dibikin di bawah pohon angsana, depan apartemen Kedoya,
Saat menunggu seseorang sembari menghirup asap knalpot
-----
June.25.2008

Senin, 16 Juni 2008

Syaraf Senyum Petugas Stasiun, Remuk Tergilas Roda Kereta Api

Sabtu kemarin adalah hari yang berwarna bagiku. Diawali saya menjemput teman saya yang jauh - jauh datang dari Malang,menginap di Hotel Istana Nelayan (hehehe, saya baru tahu di Tangerang ada hotel juga). Sebenarnya sudah 3 hari dia ada di Jakarta untuk menyelesaikan urusan bisnisnya dengan perusahaan 'perusak lingkungan' (hahaha, sori ya Mas Heri, whatever it take, congrat with your S2 !).Karena dia belum minat pulang, saya ajaklah liputan (tepatnya main) ke rumah Pak Greg (Gregori G. Hambali).

Barangkali, kalau bukan orang yang berkecimpung di tanaman, nama beliau cukup asing. Yang jelas, Pak Greg itu ilmuwan tingkat dunia yang 'tak mendapat tempat' di negeri ini. Bertemu dengannya bagi saya seperti kuliah 5 tahun di Pertanian. Saya setia meliput dia sedari tahun 2003, hingga kini. Bagi saya, dia sudah menjadi seperti ayah saya, dosen saya, tempat saya menanyakan banyak hal terutama tentang tanaman, tapi tidak tentang Tuhan dan agama. Yah, begitulah..selalu ada yang baru bila saya datang ke tempat ini, apalagi di kebunnya yang seluas 3.000 m dimana tersimpan tanaman unik dari seluruh dunia. Saya begitu ,menikmati ngobrol dengannya ditemani setandan pisang (bener-bener setandan). Satu yang kuingat dari kata - katanya "Kamu harus menulis yang bermutu, agar orang mendapat sesuatu, inspirasi dari membaca tulisanmu."

Tak dinyana, teman saya ini penelitiannya sama dengan Pak Greg, tentang ubi jalar. jadilah, mereka berdua yang ahli pemuliaan tanaman larut dalam diskusi ilmiah. Tak dinyana pula, teman saya ini agak tak biasa jua (untuk tidak mengatakan sinting). Dia sepakat dengan Pak Greg "Ya, surga dan neraka itu untung - untungan. Siapa tahu memang ada, jadi kita juga enggak rugi berbuat baik seperti yang disyaratkan untuk masuk surga." No Comment.

Pulangnya, ke stasiun Gambir, teman saya ini ngotot pengin naik kereta. saya sudah pesankan tiket, tapi saya lupa, tiket tersebut atas nama saya. Karena butuh untuk admisnistrasi perusahaan, tiketnya harus diganti nama bersangkutan. Hemm..sayapun harus berurusan dengan pihak stasiun kereta. Pihak stasiun kereta itu identik dengan kata tidak menyenangkan. Percayalah. Saya minta teman saya ini duduk manis saja, sayapun ambil napas panjang. Begini kronologisnya.

Saya tanya ke petugas berseragam biru dengan topi putih, di lenganya tertulis PROV yang amboy...gagah nian. Jawabannya segagah yang saya kira (dan saya sudah hafal betul).

GAK BISA ! GAK BISA DIGANTI (Huruf besar ini sebagai visualisasi nada yang sama dengan ketika Anda mengucapkan "GO TO HELL atau PERGI KAU PENGEMIS, Anda mengerti kan ?") Kembali saya ambil napas sepanjang mungkin.

"Bapak ada saran ?" tanya saya dengan sesopan mungkin diikuti senyum.

"TANYA KE LOKET " ( Ini identik dengan TEGAK SENJATA...GRAKKK)

Sayapun menuju petugas loket. Perlu Anda tahun kata petugas loket itu sama artinya dengan tugu batu, beku dan syaraf senyumnya sudah rusak terlindas roda kereta api. Sungguh.
Setelah mengantri barang 8 - 10 peserta, dimana ada dua kunyuk yang nyerobot. saya pun berhadapan dengan petugas. Sebelumnya saya sudah ambil napas panjang dulu, berharap oksigen bisa memperlebar hati saya hingga lapang.

"NGGAK BISA. DALAM ATURAN, HANYA JAM DAN KERETA YANG BOLEH DIGANTI !! (Huruf besar di sini sebagai simbol bahwa kata - kata diucapkan dengan kekuatan penuh. Agaknya baterei petugas itu habis dicharge)Saya pun tersenyum.

"Terus saran Bapak bagaimana ?"

"HARUS GANTI TIKET"
(Lalu teman saya yang tiba-tiba ikut nimbrung langsung setuju)

"Eh tunggu dulu, kalau ganti tiket itu artinya bayar lagi kan ?"

"YA IYA. NGEPRINT TIKET LAGI. "

"Lalu tiket lama mau diapain Pak ? Dikasih ke calo ?" (Alot)

"KALAU GITU, BAYAR Rp 125.000, nanti saya print lagi" (125 ribu itu artinya stengah dari harga tiket. Setara dengan 10 kali makan)Teman saya langsung setuju, tapi saya bilang NO WAY !!

"Pak, bayar 125 ribu itu aturan darimana ? Atau aturan yang bapak bikin barusan ?Boleh saya ketemu dengan kepala stasin ?Atau petugas administrasi ?

"NGGAK ADA KEPALA STASIUN. SEMUA UDAH PULANG"

"Yang benar Pak. Jadi tidak ada yang bertanggung jawab di stasiun ini sekarang ?"tanya saya dengan senyum.

Petugas itu kehabisan kata-kata. Lalu saya disuruh bertanya ke para lelaki gagah tadi dimana letak ruang adminitrasi.

"Terima kasih, Pak. Bapak tahu enggak..sebenarnya Bapak itu cakep loh. Sayang enggak bisa senyum...jadinya mirip hantu" komentar saya sembari berlalu. Saya tidak menyempatkan diri untuk melirik lagi.

Ketika saya kembali ke lelaki gagah berseragam biru itu, jawaban pahit masih saya dapatkan. Tetapi saya hanya senyum dan senyum. Hingga saya menghadap petugas adminitrasi, nama diganti dan dicap stasiun hanya dalam 3 detik. Begitu keluar, saya melewati petugas berseragam biru tadi.

"Gimana, bisa " (Anda lihat, nadanya sudah beda"
"Bisa"
"Gimana caranya"
"Ada capnya kepala stasiun"
"ITU BUKAN KEPALA STASIUN"
"Ada kok, gak percaya..check aja" kata saya yakin. Saya lihat keraguan di wajah lelaki gagah tadi. Nah, lo..."MAU TAUUUUU AJAHHHH" kata saya sembari mengibaskan rambut.

Keluhan semacam ini sudah saya tulis di sini beberapa waktu lalu. Sempat juga saya berniat menulis di Kompas. Tapi entahlah, saya merasa itu sia - sia saja. Saya hanya berdoa dan doa saya memang tidak nasionalis "Ya Tuhan, datangkanlah investor asing yang berinves di Kereta Api. Agar PT KAI ada saingan. Jangan lupa Tuhan, datangkan pula dokter bedah ahli, yang bisa mengoprasi semua petugas kereta api hingga mereka bisa senyum kembali. Amin" Dan Anda seharusnya juga mengamini doa saya.

Senin, 02 Juni 2008

That the friends are for



Pada awalnya hanya senyum
Lalu sapa
Lantas kata

Kemudian canda
Ada cerita
Tentang dia, mereka, cinta dan waktu
Mengalir ide

Dilanjutkan dengan khayal
Pada mimpi
Tentang keidealan

Sampai di sini kita memang berbeda
Dalam pandang
Dalam jarak
Dalam rentang usia

Tetapi kuyakin semua itu terengkuh hangat
:peluk seorang sahabat

Jakarta, Juni.1.2008
(Untuk F Rahardi dan Sutan Iwan Soekri Munaf (Kak Iwan hahahaha)

"Ini yang saya rasakan ketika berada di antara obrolan 'dua fosil' menakjubkan ini. Pada suatu malam ketika Jakarta macet dan bulan sabit yang berkarat. Dengan ayam pop, gulai kambing dan kopi hitam. Sungguh saya merasa bukan siapa - siapa. Masih banyak yang harus saya pelajari. Thanks telah mengenalkan saya pada dunia yang saya kagumi"

Jumat, 30 Mei 2008

Lady of Heaven

Coklat dan kopi, perpaduan yang menawan

Seminggu ini, hidup saya serasa unik dan nyentrik. Dari mulai menunggu kepulangan suami saya yang katanya akan pulang minggu ini (Waduh, Sayang... datanya belum kelar dientry.Terus?Ya, ditunda awal bulan.Hiks. Ya udah deh, Mas... yang penting tidak menikah dengan gadis desa yang lugu dan lupa pernah nikah sama saya. O, santai saja...tidak banyak kok yang mau sama aku, kecuali kamu. Oh, syukurlah)

Masih berurusan dengan tunggu menunggu, seorang kawan (saya menyebutnya kawan saja,walo lebih tepat disebut 'suhu'alias guru)datang dari Prabumulih, Bang Sutan Iwan Soekri Munaf, datang ke Jakarta. Setelah menyesuaikan jadwalnya yang luar biasa sibuk dengan jadwal saya yang sok sibuk, akhirnya disepakati kita ketemuan hari kamis, 6 hari setelah beliau ada di Jakarta. Kebetulah ada mbak Fanny Poyk juga merencanakan bertemu. Entahlah, begitu semangatnya saya menunggu hari itu, sampai saya coret hari demi hari yang saya lalui (ini salah satu bentuk kesintingan yang kadang ga masuk akal).Akan banyak yang akan saya tanyakan. Akan banyak yang akan kami obrolkan. Tahu apa yang terjadi ? Tepat 24 jam sebelum hari H, kabar yang membuatku ternganga sekaligus ketawa "Aduh, Nduk... saya sakit xxxxx. Beneran,Abang tidak bohong." Sakit itu sengaja diberi tanda xxxxx,karena sakit ini memang benar sakit tapi sakit yang bikin ketawa orang yang mendengar. Setara dengan sakit gigi deh.(Bang Iwan, komentar Mas Gi'..Wan..wan, sakitmu kok memalukan gitu. Memangnya kamu ngapain aja hahahaha).

Di sela - sela tunggu menunggu, sayapun bekerja (sungguh kok, bos. Saya tetap wartawan telad-an hahaha)Di tengah kemelutnya harga BBM, demo mahasiswa (Heh, Rif..Arif Nurhayadi BEM Faperta 2000, masih idup kagak lu ?Jadi ingat, kamu ya yang menjerumuskan aku sampai terkapar tidur di bawah air mancur gedung DPR dengan uang Rp 9.300,- di jas almamater biru langitku itu, uang sisa beli mie ayam Pak Ho untuk menempuh Solo-jakarta. Awas ya kalau kamu ternyata duduk manis jadi pejabat. Gua kutuk ambien berat !!).Nah, pekerjaan saya itu meliput sebuah pameran bunga internasional. Persertanya para ibu kelas atas dengan sanggul menjulang (kata teman saya - lady coffe morning).Suasananya demikian megah, kontras dengan suasana di pagar gedung parlemen. Tahu enggak, pembaca yang budiman...saya tidak mimpi buruk malam sebelumnya, tidak melakukan hal yang tidak senonoh, kenapa hari itu sial bener.

Pertama, saya tidak dapat celah wawancara tokoh - tokohnya sama sekali. Karena memang tokohnya itu orang asing (bc Amerika). Alhasil, saya hanya mendengarkan dari luar ring sambil mencatat secepat mungkin. Ada ibu - ibu, one of lady coffe morning, menanyakan :
"Emang kamu tahu artinya apa ?" Oh huhuhuhu
"Ehmm...sedikit, Bu." Jujur saya jengkel berat. Tampang saya memang khas Klaten (The megapolitan city hehehe), tapi untuk mengerti ucapan bule, apalagi tentang po'on (bc: taneman) tidak sesulit saya mengartikan teks original sajaknya Shakespeare. Tetapi kejengkelan saya mendapat jawaban saat itu juga, ketika si bule justru mendekati saya dan saya bisa wawancara dengannya, lamanya dua kali lipat waktu yang dijadwalkan untuk wartawan lain. Bule itu mau menerima siapa saja, tak peduli tampang. Apakah ini yang membuat negara lain melangkah lebih cepat dari negeri ini ?Bahkan secara enggak sadar, justru saya beri tahu lebih banyak ilmu tanaman daripada si bule itu. Hah, look at me. Im Indonesian people, agraris country. I proud of my self as a farmer. Really farmer, not Indonesian Farmer Society (bc : HKTI/Himpunan Kerukunan Tani Indonesia)
"Oh, kamu bisa juga toh ngomong sama dia. Tahu betul kamu tentang tanaman" komentar ibu itu. Ah, telat bu...ini ni Bu, tampang Klaten, tampang po'on!

Ada satu lagi hidup saya yang berwarna minggu ini. Ketika saya bertemu dengan seorang kawan (kali ini saya takkan sebut namanya) di sebuah diskusi para sastrawan hebat. Seorang kawan yang mengaku pernah kena pelecehan seksual. Lalu menjadi trauma dengan laki - laki. Pelampiasannya justru dia bisa jatuh cinta dengan lelaki yang usianya jauh di atasnya, sangat jauh, bahkan kalau diusut itu seusia dengan kakeka saya. Bayangkan kalau laki - laki yang pernah dicintai itu kini usianya 77 tahun. Ia mencari figur pelindung. Saya benar - benar tak menyangka, dia yang tulisannya begitu berat, di majalah sastra yang berbahasa berat, hidupnya berat juga. Dia yang wajahnya tak berdosa, polos dan begitu belia (ternyata seumurku).

Tiba - tiba saya menjelma menjadi dirinya, bagaimana saya dulu pernah begitu terpesona dengan 'dunia intektual' yang mengawang - awang. Ranah ideal yang diobrolkan hingga ampas kopi-pun tertelan hingga butir terakhir. Saya pernah hidup di sana walau tak persis sama. (Sekali lagi Rif, kalau kamu baca tulisanku ini, dimanapun kamu berada, tapi kuharap bukan muncul di Patroli ya, kamu harus berjanji untuk mengembalikan 'hidup saya' yang kau comot hingga terdampar di perempatan Gladag, lengkap dengan slogan - slogan 'sinting' itu, hah!)Kesimpulannya, kalau mau 'sembuh' dan 'normal', come to the riil world. Standing on the earth. Stop be lady of heaven...

Tetapi satu yang aku acungi jempol dari kawan tadi, ia tetap berdiri. Selalu membuat dirinya bersinar. "Gue ingin tunjukkan, Tik...gue tetap ada. Gue tetap layak dihargai dengan karya - karya gue, bukan dikenang dari masa lalu gue. Soalnya kalau gue mo nuntut pada orang yang melecehkan itu, sama saja gue bunuh diri. Dia pegang kartu As gue." Saya jadi beku. Kau hebat, kawan...

Catatan Untuk Sausan :Sayang, kini kamu mulai tahu siapa ibumu. Makanya, setiap ibu berangkat kerja harus pakai ritual : menggendongmu hingga pintu gerbang, cium pipi kanan, cium pipi kiri lalau kamu bilang daaaaa sambil memutar pergelangan tangan kirimu.Jadi, ibu enggan pergi. Btw, Sayang...ada puisi indah yang ditulis oleh penyair hebat di negeri ini, hanya untukmu, Sausan. Kalau sudah tahu, akan ibu kasih tahu. Ayah saja enggak punya loh...

Kamis, 22 Mei 2008

Prolog

Untuk sebuah nama
Yang tak seharusnya kusebut kembali
Sayangnya, ingatan tak butuh keharusan

Maka,
Ijinkan aku mencuri secuil inspirasi yang menjalari jejaringan syarafmu
Ijinkan aku tetap membingkai diskusi hebatmu dalam folder-folderku
Ijinkan aku memupuk imagi tentang bumi yang hidup dan menghidupi

Percayalah,
Aku tak bermaksud mengusikmu
Kukagumi dirimu beserta planet yang berporos padamu
Dalam harmoni sistem semestaku dan semestamu
Kaulah… matahari di tata surya galaksi tetangga
(Folder F)

Senin, 19 Mei 2008

Folder yang terserak


Cinta adalah gugusan rasa
Bukan persenyawaan antar molekul-molekul
Cinta tak butuh medium
Kendati hati adalah tahtanya
Namun cinta tetap tak teraba
Kau pernah mendengar kisah perang Bubat ?
Bagaimana kau jelaskan jika peristiwa berdarah itu
Terlahir karena cinta Hayam Wuruk pada lukisan Dyah Pitaloka
Hanya lukisan, bukan wujud nyata
Sungguh aku menyayangimu

*****

Entah mengapa
Rasa itu datang begitu saja
Bahkan sebelum pertemuan kasat mata

Sungguh aku menyayangimu
Sebagaimana aku sayangi setiap serpih waktu bersamamu
Sebagaimana aku sayangi tiap inchi panjang gelombang suaramu
Sebagaimana aku sayangi setiap butir loncatan neron otakmu
Sebagaimana aku sayangi tiap denyut aortamu

Meski aku tak lagi bisa genggam tanganmu
Atau sekedar menyapa 'Apa kabar, matahari pagiku'
Meski aku tak bisa miliki kehangatan bincang kita
Atau sekedar menyapa 'Apa yang sedang kau risaukan saat ini ?'
Meski aku tak pernah bisa dan tak pernah ingin
Memiliki jasadmu...
Bisakah kau lupakan sebentuk raga, sebentuk perseteruan
Lepaskan segenap jubah aturan, komitmen, konstitusi, konspirasi
Meleburlah bersama Yang Maha Lebur
Di sana ranah material bukan lagi kendaraan
Karena roh tak butuh tumpangan

Sungguh munafik bila kukatakan
'Aku tak mencintaimu'
Karena itulah aku dalam ambigu
***

Hahaha...Anda sudah baca kalimat melow di atas ??? Saya sungguh senang sekali menyampaikan pada Anda. File itu sempat saya kira lenyap, tapi berkat bantuan teman (Mas Fajar, memang kau harus menraktir ayam bakar agar ide kreatif itu muncul lagi hahaha).

Ceritanya begini, tahun 2004 saya mencoba menulis novel. Dengan tertatih - tatih, dalam 2 tahun draft itu kelar, sekitar 190-an halaman. Sempat saya print untuk dikirim ke penerbit ternama, dan ditolak habis. Setelah itu, saya biarkan 'anak manis' itu teronggok di antara buku - buku dan berdebu.

24 Maret 2007, anak saya lahir. Malam itu juga, rumah saya kebobolan dan semua barang lenyap kecuali kulkas dan Mr. lemot (kucing saya yang sekarang sudah almarhum karena kena racun tikus tentangga). Yang paling nyesek di antara sekian barang yang lenyap adalah lap top dan kamera. Bahkan karena itu, suami saya menyampaikannya dengan berliku -liku karena dia tahu betul saya saya menyayangi benda itu.

Tetapi kala itu, saya tidak merasa begitu kehilangan karena sibuk bahagia dengan kelahiran anak saya. Tetapi begitu sadar, bahwa hilangnya lap top itu artinya hilangnya data yang ada i dalamnya, termasuk novel yang saya tulis selama dua tahun itu. Lunglai sudah dan saya sempat tidak mau lagi mengingatnya.

Dua hari yang lalu, Mas Fajar (dan sekeluarga : Mbak Rika, Faya dan Faza...haha kalian sudah besar yah). Menraktir ayam bakar khas solo. Saya jadi ingat waktu tulisan saya di Suara Merdeka dimuat, dengan semangat saya berniat traktir Mas Fajar makan di ayam bakar bu Broto yang terkenal itu. Ternyata dompet saya ketinggalan..hehehe

Sebelum berangkat, dia mengingatkan saya bahwa saya pernah kirim draft novel itu via email. saya sendiri sudah lupa pernah mengirimnya. Mas Fajar yakin, saya mengirim banyak bab.Tetapi pas dicari - cari tidak ketemu.

Tadi sore, saya telepon Bang Iwan sekedar ngobrol ngalor ngidul. Sampai akhirnya saya ingat kejadian yang berkaitan dengan novel itu. Saya cari lagi di komputer kantor...foleder itu masih ada !!! 90% naskah itu tersimpan rapi di dokumen yang sudah sekian lama tidak dibuka. Saya sujud sukur...

Catatan untuk Sausan : Ayah, sekarang adik semangat menulis lagi. Tunggu ya, kalau ayah pulang akan adik bacakan satu novel hahahaha.

Bogor Style, hah ?!


Jumat yang cerah, di seputaran Ciawi.
Saya heran, kenapa minggu ini diliputi urusan dengan palak memalak para stakeholder angkutan. Baru Senin lalu, saya berurusan dengan becak di Palembang, kini saya berurusan dengan tukang ojek di Sukamanah, sekitar 30 km dari perempatan Ciawi.Walaupun secara geografis beda dengan Palembang, tapi secara esensi sama.

Berawal ketika saya sampai Pasar Cibedug, mau menuju ke Kebun Bunga Pak Benny (tempat yang selalu aku suka karena hamparan bunganya serasa di Eropa). Saya naik ojek setelah tawar menawar dengan jelas (saya enggak mau ketipu lagi). Disepakati harga Rp 4.000,- (empat ribu rupiah). Jalur yang harusnya ditempuh 10 - 15 menit, muter - muter enggak jelas,saya diberhentikan di villa dengan pagar tinggi dan bersemak belukar.
"Ini kan tempatnya ?"
"Tempat apaan ? Saya mau ke Kebun Politani, Kebun Bunga Pak Benny...bukannya tadi bapak bilang tahu ?"
"Loh...kan ini, yang saya tahu ini "
"ini kan bukan kebun bunga pak benny, ini villa dengan bunga liar. Saya enggak mau cari kamar, Pak. Tapi mau cari berita ?"
"Dari tadi yang jelas dong,Mbak...kalau ke Politani mahal, jauh."
"Ya jauh dari sini. Bapak sudah muter - muter enggak jelas."
"Bukannya gitu, mbak..jalan biasa rusak. Kalau ke Politani mah 35 ribu"
"maksud bapak apa ?" Perselisihan kembali alot.

NO WAY ! Saya enggak mau ketimpuk dua kali dalam seminggu. Kali ini saya tahu betul wilayah ini, saya enggak dikejar dedline..jadi saya bisa mikir jernih.
"Begini aja deh, Pak...kalau Bapak ngotot saya harus bayar 35 ribu untuk sampai kebun politani, dan saya enggak yakin Bapak bisa sampai sana. Balikin saja saya ke tempat semula. Jadi anggap aja bapak enggak pernah ngojekin saya." Dilihat dari wajahnya, Bapak itu mengisyaratkan 'Coba saja kalau berani, dijamin ga ada ojek lagi' Saya pun tersenyum simpul.Bodo' ga da ojek ya telepon nara sumber, minta dijemput.

Sesampai di pasar cibedug, Bapak itu senyum penuh kemenangan. Lalu berulangkali nawarin lagi untuk dianter. Sorry..borry morry...saya malas berurusan denganmu lagi!
Tak berapa lama, ada yang lewat. Tukang ojek junior. Masih kecil dan terlihat belum ahli naik motor. Demi menjadga gengsi, saya pun say goodbye dengan ojek senior tadi. Lihatlah, siapa yang menang ?

Tapi resiko dari jaga gengsi pun tidak mudah. Ternyata ojek yunior memang serem, apalagi jalannya sempit, nanjak dan berkelok. Wah, kalau sampai kejeblos di jurang pinggir jalan...benar - benar bukan cerita menarik. Akhirnya saya ajukan solusi..
"Dek...biar saya saja yang di depan" Begitulah, tidak jelas, siapa tukang ojek siapa penumpangnya. Jalan menanjak bukan masalah bagi saya mengingat dulu pernah kejar kejaran dengan polisi di sepanjang Slamet Riyadi Solo hingga akhirnya polisi berkomentar " Kuliah di pertanian ? Kenapa tidak jadi pembalab saja" hahahaha

Di akhir cerita, saya tidak jadi kehilangan Rp 35.000,-...tapi malah si ojek junior enggak mau dibayar. ya karena kasihan, saya ajak makan cilok (semacam siomay) karena saya kelaparan setelah 'berdiskusi' dengan si tukang ojek senior.

Hahaha..this is Sukamanah Style...

Catatan buat Sausan : Sayang, Indonesia tak seramah dalam cerita. Kemanusiaan begitu mahal harganya. Koruptor tak hanya didominasi oleh pejabat, tetapi siapapun bisa melakukan. Kalau mengingat ini, Ibu menjadi menyesal..kenapa dulu harus merelakan tidur di bawah air mancur Gedung MPR DPR demi menyampaikan tuntutan rakyat. Rakyat yang mana ? (seorang kawan ibu pernah mengatakan, kalau orang kecil korupsi untuk makan. Jadi lebih bisa dimaafkan. Benarkah ?)