Bisik angin di kejauhan
Menerbangkan rambut kuningmu bersama misteri pasir
Kau kirimkan biru matamu untuk menemaniku
Di sebuah pulau asing yang menjadi surga bagimu
Sekuntum seroja jatuh di tanahku dan kau berdiri
Tegap tubuhmu membungkuk laksana ksatria berkuda putih
Sejenak kau timang bunga yang sudah puluhan tahun kukenal
Dari jemari porselenmu, serojapun terbaring di telapakku
"Mahkotanya ada 10 helai.
Apakah kau sempat menghitungnya ?
Susunannya menyebar seperti spektra cahaya
Apakah kau bisa merasakan keindahannya ?
Dia hanya ada di tanah ini, tidak di belahan bumi manapun
Tidak juga di tempat matahari tenggelam dimana aku berasal
Kau tahu itu ?"
Seroja di tanganku,
Tiba - tiba berkilau bagai sejuta kristal Swarozki
Harum melebihi parfum Perancis
Lumer mengalahkan kelembutan Haagen Dazs
Benarkah ini seroja yang kemarin ?
Aku yang memujamu
Aku yang ingin menjadi dirimu
Aku yang silau oleh segala yang ada padamu
Hingga lupa pada diriku, tanahku
Bagimu, aku adalah permata Asia yang akan selalu berkilau
Jika aku tetap menjadi aku
Sanur, 21 Oktober 2008
Jumat, 31 Oktober 2008
Minggu, 26 Oktober 2008
Dari PakThorsten,Saya Belajar tentang Indonesia...




Setiap tempat yang saya singgahi, pada momen yang tak diduga, saya menemukan sebuah nilai hidup. Kalau dalam istilah pewayangan semacam Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyyu. Secara sederhana diartikan sebagai ilmu untuk mencapai makrifat alias kesempurnaan hidup. (Berat deh...)
Minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi Bali, The Paradise Island. Pulau yang lebih terkenal di ranah internasional ketimbang Indonesia. Bali yang dalam benak saya, akan dapat melihat dan memotret segala ritus kebudayaan yang terkenal itu. Imagi itu akan terlaksana tatkala kita datang sebagai turis atau pejalan. Sayang, saya datang dalam rangka bekerja dan dapat dikategorikan kerja keras.
Begitulah, saya menjadi sekerup yang teramat kecil dalam kegiatan pemeriah perhelatan besar yang dinamai 1st Asia Beach Games. Bukan sebagai peliput namun sebagai panitia. Sebuah sebutan mentereng namun sangat ‘merusak’ keindahan Bali bagi saya. Begitulah, tatkala turis dari segala bangsa berduyun – duyun berwisata, saya dan juga teman sejawat dari Jakarta mengurusi kedatangan tamu luar negeri, tamu negara hingga berpikir keras menemukan solusi bagaimana WC mampet bisa bekerja lagi.
Baru pada hari ketiga, saya bisa melihat sekeliling. Itupun masih dalam lingkup tugas. Saya bertemu dengan seorang desainer lanskap asal Jerman, namanya Thorsten d’Heureuse. Saya memanggilnya Pak Thorsten, entahlah...sampai sekarang saya masih bersikap sebagaimana ibu saya mengajarkan sopan santun ala Klaten. Bahwa menyebut langsung nama pada orang yang lebih tua itu kategori kurang ajar.
Sebagaimana layaknya ekspatriat (paling tidak yang pernah saya temui), cara kerjanya begitu sistematis. Segala dipersiapkan dengan profesional dan meyakinkan. Walaupun banyak desainer lanskap Indonesia yang karyanya tak kalah dari Thorsten, bahkan ada yang lebih bagus, hanya saja mereka belum bisa mengemas hingga menjadi format bisnis yang dipercaya internasional. Saya penah menemui desainer lanskap Indonesia dimana ia mengerjakan taman senilai 1 M, dan tamannya eksotik luar biasa, sketsanya dibikin di atas kadus makanan. Perihal kemasan, banyak lahan dimana Indonesia belum bisa melihat potensi packing yang menawan. Coba pikir, sejauh mana kekayaan Singapore Botanical Garden dibanding dengan kekayaan Kebun Raya Bogor ?
Sebagaimana yang saya duga, karya Thorsten akan kental sekali dengan nuansa tropis yang dibanggakan orang barat tetapi tidak dibanggakan orang Indonesia sendiri, jantung hutan tropis. Saya tak menyalahkan, sudah menjadi minat psikologis dimana orang akan tertarik rumput hijau di negeri tetangga. 'Indonesiawan' ini akan begitu bangga tatkala punya desain lansekap Mediterania, Japanese Garden atau American Garden dimana mereka repot mendatangkan tanaman impor. Prestis dan bermartabat.
Hanya saja komentar Thorsten yang membuat saya merenung,” Bukan, itu bukan psikologi manusia. Itu adalah keegoan manusia yang mau melawan Tuhan. Kamu pikir, apakah manusia lebih pinter dari Tuhan untuk menata alam ini ?
Tuhan telah membuat bentang alam dengan komponen yang harmonis. Secara mudah, datanglah ke pinggiran sungai. Perhatikan jenis dan bagaimana pohon, semak, perdu yang tumbuh di sana. Itu adalah penataan paling jenius. Jika kamu ingin membuat taman, contohlah seperti itu. Jangan memaksakan tanaman yang berbeda ekologinya tumbuh di halaman rumahmu. High maintanance. Disamping itu, akan menimbulkan bencana lingkungan yang tak terduga. Di China, tanaman introduksi macam Sphatodea campanulata menjadi tumbuhan penggagu yang susah dibasmi.
Apalagi, untuk membuat taman, membangun perumahan, harus menebang pohon yang lebih dulu ada sebelum lanskapernya ada. Kenapa ? Kamu bisa bayangkan berapa waktu yang diperlukan tumbuhan itu untuk tumbuh ? Belum lagi kalau diganti dengan tanaman impor, biaya tinggi. Itu perlu disadari. Kenapa kita tidak mensyukuri yang kita punya. Indonesia punya yang negaraku (baca: Jerman) tak punya. Kenapa itu tidak dihargai ? Puluhan ribu spesies tanaman, berapa persen yang beredar di pasaran sebagai komoditi ? Lalu bandingkan dengan tanaman impor yang justru lebih banyak.” Di tengah nada bicaranya yang tenang, bersemangat, berbahasa Indonesia dengan lancar, baik dan benar (sesuai dengan EYD)diiringi dengan musik rock aliran keras (ini yang membuatnya tampil muda, energik dan style ala McJagger), akupun terdiam. Mengapa ?
“Kalian tak boleh putus asa. Indonesia harus bangkit. Saya yakin, Indonesia adalah negara besar dan akan menjadi tetap besar,” begitulah kata - kata yang aku ingat.
Thorsten adalah satu dari ribuan ekspatriat yang tersedot magnet keindahan Indonesia. Yang menurut sebagian dari kita yang 'idealis dan nasionalis' tak menyukai keberadaan mereka. 'Merebut ladang lokal' Sementara kita yang berpusar di pusat medan magnetnya tak menyadari, bahwa di luar sana daya tarik kita begitu kuat.
Perjalanan pulang ke hotel, saya kembali ke jalan yang tadi saya lalui bersama Thorsten. Tiba - tiba saya merasakan pohon, jalan, bangunan dan hal - hal yang saya lewati menjadi lebih berarti. Haruskah untuk menyadari hal berharga yang kita miliki harus meminjam kaca mata orang lain ? Lebih parah lagi, kita baru menyadari bahwa kita punya banyak tatkala banyak hal itu sudah tak lagi jadi milik kita.
Catatan Untuk Sausan : Sayang, senja di Kuta terasa sunyi tanpa kehadiran pipi tembem u. Really, I miss u, my little sunset. Baik - baik yah sama nenek.
Kamis, 25 September 2008
Mamma Mia...'sinting' di masa tua !



Kemarin sore, saya melakukan tindakan yang tak masuk akal. Tetapi untunglah akhirnya justru menyehatkan akal.
Mbak Fanny Poyk tiba2 ngajak ketemuan, katanya ada temennya yang mau nraktir nonton ABBA. Saya tegaskan sekali lagi, bener ga saya juga dibayarin ? Bener. Kan tiket konser artis bule gitu mahal. Enggak kok, cuman 30 ribu. Yakin ? Jangan - jangan kita nonton di bawah drum. Enggak, bener...nonton di Megaplex. walah, itu mah pilem, bukan nonton ABBA. Iya..ABBA dalam film hehehe
Begitulah, pukul 15.00 saya sempat ragu. Berangkat enggak ya tatkala menimbang pekerjaan yang bejibun tiada tara (Aduh...mau libur nasional seminggu aja bayarannya mahal bener)Akhirnya, menimbang kepala yang sudah berat dan butuh ketawa ngakak..saya pun berangkat dan berniat balik lagi ke kantor untuk menyeleseikan tulisan. (Saya sedang mengedit tulisan untuk acara di Bali dan duh...terkadang daripada mengedit mending menulis sendiri).
Begitulah, akhirnya saya tunggu Mbak Fanny di TKP yang dimaksud. Sebuah lokasi yang menurut saya begitu mewahnya. Dan saya selalu merasa berdosa, tak nyaman, dan pengin secepatnya kabur dengan lokasi seperti ini (dasar berpribadi miskin hehehe). Saya duduk di pojok, sembari melihat orang lalu lalang. Mbak - mbak cantik2, bajunya minim - minim (oh, khusus untuk hal ini di sini sangat efisien, sehingga tak perlu merasa berdosa dengan kere yang tak mampu beli baju). Lalu banyak wartawan (ya saya mengenali mereka dari atribut dan pembicaraan : seputar deadline. Aduh..kepalaku jadi berat). Banyak wartawan itu menandakan mau ada premier film (ternyata Laskar Pelangi).
Mbak Fanny datang. Temannya Mbak Fanny, namanya Bu Sasi pun menepati janjinya untuk membelikan tiket. Ya benar, 30 ribu ! Tapi mak...yang membuat saya sesek (dan ga rela), untuk bekal berbuka pas nonton film (karena pas maghrib pastilah film sedang diputar, maafkan saya ya Allah, sedikit tak bertaqwa), saya beli sebotol air mineral . Dengan kalem, Mbak kasirnya menyebut angka Rp 13.350,- Byuh. Serasa nyesek. Coba tadi beli di kaki lima, maksimal Rp 2.000,- Kalau di sini Rp 5.000,- gitu masih maklum, lha ini 6 x lipat. Kejem !! Mau saya kembalikan, tapi kok takut..bukan takut dituduh miskin, tapi takut dipelototin Mbak kasir.
Mbak Fanny senyam senyum Pun ketika seorang sales kartu kredit menawarkan jasanya, dengan elegan Mbak Fanny menolak. begini kalimatnya :
"Wah, saya tidak mau lagi ikut yang begituan "
"Lah ini kan menguntungkan bla..bla..bla (yang ditawari hanya Mbka Fanny, bagaimanapun dia masih nampak kaya daripada aku hahaha)
"Maaf Mas, saya gak punya tabungan sama sekali. Saya kan pengangguran (dengan menepuk dada, tanpa beban justru malah bangga). Nanti kalo ikut, ga bisa bayar, dikejar kejar tuh sama depcolector yang badannya gede (sembari mengangkat kedua tangan posisi Ade Rai)" Salespun pergi tanpa basa basi.
Film pun diputar. Yang menonton sedikit. Kami telat 10 menit.
Waw...itu film kereeeeen, sinting, menghibur. Saya takkan menceritakan detail. Yang jelas pemainnya semua emak2, Merly Streep (bener ga ya nulisnya) yang aku ingat main di Adaptation. Terus si bapak ganteng Piere Brosnan (ga tau ini tulisan bener ga). Mereka begitu energik, sinting cerdas dan...jadi mamma (emak, simbok, ibu) tetap bisa bahagia, muda dan menyenangkan.
Bagi sesama kawan yang memang tak bisa menjadi ibu yang lembut nan halus sebagaimana di sinetron dan uang lima rupiahan (tempo dulum, si ibu berkebaya)Tetap bisa menjadi ibu yang baik (plus harus menonton Mamma Mia..bukan promisi, tapi ini menginspirasi). Jadilah teman bermain dan berjalan - jalan (mendaki gunung ..), jadilah sahabat tempat curhat...bagi anak - anak kita. Kami pun tertawa, beban masing - masing seringan kapas.
Thanks ya Bu Sasi, Mbak Fanny...for exicting moment !Sausan, senja mungilku..terkadang ibu merasa cepat tua begitu melihat kamu semakin tumbuh. Tapi film itu menginspirasi ibu untuk tetap menjadi temanmu, kapanpun. Dari kini kita menyanyikan 'Gembira Berkumpul-nya Tasya' sembari jingkrak jingkrak di atas kasur, atau main lempar-lemparan tepung kue (kue kosong dan berbau sangit, toh kue enak bisa beli di toko..kebahagiaan itu ga bisa dibeli)sampai nanti kamu dewasa dan butuh sahabat untuk curhat. Just say..SOS !!
Catatan untuk Sausan : Aduh, Sayang..Mbake dah mudik neh, ibu jadi pontang panting. Jadi sebaiknya kamu tak usah protes kalo bubur bikinan ibu tak seenak Mbake sebab buru2 bikinnya. Yang penting bergizi dan penuh sayang, itu pasti !Kalau mau ngompolin Ayah..yang basah sekalian semuanya, jangan tanggung - tanggung yah!
Kamis, 18 September 2008
Dulu Kau Ada

Dulu kau ada,
Menyaksikan langit yang berlahan gelap
Kabut berat turun menjadi mendung
Tanah gelap tapi hatiku terang
Dulu kau ada,
Ketika tampias gerimis membasahi sweater merah jambu
Kau hapus lembut dengan T shirt yang kau kenakan
Hangat berlahan menjalar
Dalam gigil aku dan kau
Dulu kau ada,
Untuk selalu mengatakan jalan tak jauh lagi
Kau genggam erat jemari
Kakiku pun lebih berdaya melawan luka
Dulu kau ada,
Untuk meyakinkan aku
Bahwa aku yang terbaik bagimu
Kau memang yang terindah untukku
Kau adakah, kini ?
Mendung di Telaga Warna,
Rain Lalu
Selasa, 09 September 2008
Tatkala Mbok Sri Bertemu Super Toy

"Kanggo Mbok Sri, iki sekul pethak gondo arum, pisang ayu, jongkong inthil.Kanggo Ki Dadung Awuk, saiki Mbok Sri wis ngancik dewasa, keparenga takboyong.."
(Untuk Mbok Sri, ini nasi putih nan wangi, pisang mulus, jongkong inthil (makanan tradisonal dari ketan). Untuk Ki Dadung Awuk, sekarang Mbok Sri sudah dewasa, ijinkan saya bawa pulang..)
Dengan kemenyan mengepul, mata terpejam dengan khusuk, seorang nenek tertatih menyusuri pematang sawah. Urat rentanya seakan mendapat energi lebih dari padi keemasan yang sebentar lagi dituai.
Barangkali Anda yang tinggal di kota tak mengenal adegan di atas, upacara wiwit yang dilakukan sebelum panen. Dulu waktu saya kecil, saya begitu semangat membantu (tepatnya ngrecokin) nenek saya (RIP)dengan upacara wiwit. Saya senang sekali waktu itu karena bisa makan nasi dibungkus daun pisang di tengah sawah, tanpa cuci tangan, bersama teman2 di desa yang 'klumut' (lusuh). Keharuman nasi itu masih teringat hingga sekarang..
Masyarakat Jawa Tengah, termasuk nenek saya sangat menghormati Mbok Sri (Dewi Sri) sang dewi padi. Mereka memperlakukan malai badi laksana rambut sang dewi sehingga disediakan cermin, sisir dan minyk rambut. Tak hanya sebatas 'kesintingan' yang tak masuk akal, tetapi kesabaran menunggu hasil panen. Padi jaman dulu (sebelum dikenalkan dengan IR)panennya hanya dua kali setahun. Oleh karena itu beras adalah barang mewah. Namun bukan berarti mereka lapar. Ada singkong dan jagung (yang juga varietas tradisional) yang bisa dimakan. Kala itu, mereka tak merasa miskin karena hanya makan singkong.
Lalu padi menjadi makanan yang wajib dikonsumsi. Makan singkong identik dengan kampungan (baca : terbelakang) dengan sebutan Anak Singkong. Makan jagung disebut sebagai kekurangan makan. Lalu Mbok Sri-pun 'dipaksa' secepatnya untuk segera dewasa. Mbok Sri yang cepat dewasa itu akan menghasilkan banyak beras dalam waktu singkat. Harusnya masyarakat tak lagi lapar.
Namun sayang, Mbok Sri jual mahal,tak lagi kenal dengan nenek saya dan juga orang2 dusun lainnya. Ia pindah ke menara gading. Tak semua bisa mengakses beras. Ketika singkong dan jagung dianggap makanan rendahan, masyarakat justru makan nasi aking. Saya kira itu dulu hanya dimakan oleh bebek. Padahal bebek kalau tidak digembala di sawah, akan mandul ga keluar telur kalau hanya makan nasi aking.
Di tengah kelaparan itu,banyak pihak mengajari masyarakat untuk mimpi dan budaya instan. Indikasinya, sinetron lampu ajaib dengan jin yang bisa mewujudkan segala keinginan laris manis. Ikut bisnis mudah hasilnya jutaan rupiah. Segalanya mau cepat, siap saji, tak perlu susah.
Begitulah Super Toy menjadi mudah diterima. Karena padi Super Toy mewakili sesuatu yang cepat dan siap saji. Masyarakat sudah terlanjur hidup dalam mimpi. Pemerintah tak mengajari untuk hidup nyata dan lebih cerdas.
Jika Nenek saya masih ada, saya yakin dia akan selalu setia untuk permisi dulu dengan upacara wiwit ketika akan memboyong Mbok Sri ke rumahnya. Mbok Sri pun tersenyum, dan takkan menjauh dari nenek saya, para petani itu...
Selasa, 26 Agustus 2008
Surat Buat Simbok di Desa

Foto : Tungku-nya Simbok
Mbok, apa kabar ?
Saya di sini baik - baik saja, tidak kurang suatu apa, kecuali kurang uang - kekurangan yang sudah bukan lagi menjadi kekurangan bagi saya dan keluarga. Lha wong sudah terbiasa tidak punya uang. Tetapi bukan berarti susah, sungguh Mbok. Segala masalah menjadi enteng ketika melihat cucumu ini sudah menik - menik dan tipluk - tipluk.
Kemarin Genduk mencret - mencret, tapi sudah dibawa ke Puskemas. Biasa, dikasih pil warna - warni, terus sembuh. Entah karena penyakitnya sudah bosen menggerogoti tubuh yang makanannya yang enak, atau memang pil Pak Mantri yang dari saya kecil hingga kini, sudah lintas kota antar propinsi juga masih sama warnanya.
Perihal warna, yang bertambah warna - warni bukan obat pil di Puskemas tetapi warna warni bendera partai. Di Jakarta, Mbok...sepanjang jalan warna - warni bendera itu berkibar dengan meriahnya. Seperti kalau di desa kita mau ada pertandingan antar RT. Apakah Simbok sudah dikasih tahu Pak Bayan, kalau partainya sudah tidak lagi hanya hijau, kuning dan merah seperti lampu stopan (Baca: traffic light) ?
Saya masih ingat kata Pak Sukam, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila)SD, bahwa di Indonesia ini hanya ada 3 partai karena untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Kalau hanya dua, bisa berantem. jadi harus ada penengahnya, yaitu partai ke 3. Sementara kalau kebanyakan seperti pemilu jaman tahun 66, persatuan akan terpecah belah.
Kini saya yang lulus SD saja tidak tahu, apalagi Simbok..apakah persatuan dan kesatuan masih diperlukan untuk melengkapi sila - sila Pancasila.
Halah Mbok, saya juga ndak tahu..apakah Pancasila tidak pada dicuri orang..wong barang - barang pada naik begini. Elpiji di tipi naik yang tadinya 63 ribu rupiah menjadi 69 ribu rupiah. Kalau di tokonya Encik dari 68 ribu rupiah menjadi 75 ribu rupiah. Kalau ditanya kok tidak sama dengan di tipi, Encik malah menyuruh beli di tipi saja.
O ya, Mbok..saya belum cerita ke Simbok ya kalau sekarang saya sudah tidak menggunakan kompor minyak yang dulu bawa dari desa waktu pindahan ke Jakarta. Beberapa waktu pemerintah menginstruksikan untuk mengganti minyak tanah ke elpiji atau gas. Begitulah, minyak tanah langka, kalau ada pun mahal.
Juragan punya kompor gas besar dan tabungnya yang sudah tidak dipakai. Makanya saya lungsur dengan nyicil. Nah, semenjak menggunakan gas, kasur tempat tidur tidak lagi kena langes (baca : jelaga) sebagaimana dulu waktu masih pakai kompor minyak. Kadang bantal juga kecipratan minyak tanah atau sumbu kompor. Hanya masalah sekarang menjadi mahal.
Saya jadi rindu di desa, Mbok. Masak tidak usah repot nyari bahan bakar. Cukup pakai sabut kelapa atau blarak (daun pisang kering). Apalagi listrik di Jakarta sering byar pet. Kalau di desa tidak pernah jadi masalah. Listrik mati ya paling tidak bisa melihat sinetron Kanza. Air masih ngalir wong nimba, nyetrika juga bisa pake arang, lampu tak masalah bisa pake minyak klentik bikinan sendiri.
Mbok, dengan kondisi ini, bukannya saya pelit..lebih baik Simbok tetap tinggal di desa saja, ngurusi sawah. Walaupun bukan punya kita, tapi Pak Bei kan sudah memasrahkan seumur hidup Simbok.
Kalau Simbok ke kota, siapa yang akan menanam padi ? Siapa yang akan menghasilkan pangan untuk penduduk Indonesia, termasuk penduduk Jakarta. Siapa lagi yang akan jadi model untuk kampanye partai ?
Percayalah, kalau tetangga kita nyalon presiden, pasti butuh orang - orang kayak Simbok untuk dirangkul dan dipeluk - peluk lalu masuk tipi. Bayangkan, Simbok masuk tipi seperti Kanza itu. Rak ya hebat ta ?
Demikian Mbok, surat dari saya. Semoga bisa sampai sebelum lebaran. Soalnya sering nyangkut di balai desa lama sekali. Doakan dagangan saya laris, sehingga besok bisa beli jarik pring sedapur dan bawa nastar untuk lebaran.
Sungkem saya,
Genduk Pagiyem
Jakarta - Tangerang - Indonesia
Jumat, 15 Agustus 2008
Lelaki di Jembatan Ampera

Jembatan Ampera, suatu siang
Kala mesin pengeruk menggerus tubuh Musi. Riuh besi beradu lumpur meramaikan siang. Ada banyak laki - laki yang ikut berkubang bersama roda mesin. Nampak biasa, sebiasa potret ribuan buruh di negeri ini. Tiba - tiba aku menangkap sesuatu yang nampak tak biasa pada lelaki itu. Lelaki dengan tato, JEMBATAN AMPERA !Apa maksudnya ?
Sembari tersenyum, saya memotretnya. (Saya yakin, Andapun tertawa). kalau tatonya kepala ular, tengkorak atau apapun yang berbau sangar, mungkin pas. Tapi ini tatonya landmark kota gitu loh. Begitu susah mendapatkan angel yang saya inginkan. Akan lebih menarik jika lelaki itu berdiri menghadap jembatan ampera, hingga saya bisa mengabadikan keduanya. Nun jauh di perkampungan kumuh nelayan Tujuh Ulu, serasa saya menemukan mutiara 'nasionalisme' pada sebuah negeri. Begitu harunya saya pada lelaki itu, yang sedemikian bangga pada salah satu sudut negeri ini. Hingga merelakan kulitnya ditusuk jejarum warna.
So, Selamat 17 Agustus 2008. Semoga penghuni Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan seantero Indonesia masih bisa tersenyum di kediamannya. Mereka tak sia-sia.
Langganan:
Postingan (Atom)