
Selamat senja, senja mungilku...
Hari Sabtu lalu kamu diimunisasi DPT yang bikin demam itu. Begitu kamu memasuki ruang periksa, kamu justru tertawa ngakak. Aha..mungkin kamu merasa geli ketemu dokternya. Pak Dokter itu memang lucu dan ramah. Begitu jarum disuntikkan, kamu menjerit. Nah, pas dicabut...ketawa lagi. Kamu memang tahan sakit, Sayangku...
Malamnya agak rewel sedikit, tetapi lantas tertidur nyenyak. Malam berikutnya, Ibu tinggal ke TIM untuk menghadiri Malam Seni HUT Majalah PARLE (kamu masih sempat ketawa ketika ibu pamitan). Undangan itu sudah Ibu terima via phone dari Mbak Endah sulwesi yang punya blog www.perca.blogdrive.com. Nah, ada sedikit harapan bahwa Ibu menang dalam lomba cerpen karena kata tante Christ di majalah Intisari, biasanya kalau ditelepon ada kemungkinan menang.
Dengan dheg-dhegan, Ibu menuju ke Teater Kecil. Sebelumnya sempat melihat pameran lukisan India. Memenuhi undangan Mr. Ajit Vahadane, teman Ibu. Lukisannya bagus, terutama yang bertema hujan. Ya, Ibu suka sekali melihat lukisan hujan itu...
Selamat buat tabloid PARLE. Acara malam seni bagus sekali, musikalisasi puisi dan pentas teater Tanah Air. Karena sponsornya pasta gigi kale ya, maka tema pentas teaternya gosok gigi juga. Ibu menonton sama Om Fajar Sidik, itu sahabat Ibu yang sudah menyalip di tikungan dengan menerbitkan bukunya ‘Sukses Ngutang di Bank’ (Ibu pikir sih bukan menyalip, kan memang dia dulu yang ngajari ibu nulis hehehe).
Nah, pembacaan cerpen pertama oleh Maudy Koesnadi yang cantik itu. Dan kau tahu, Sayang...cerpen itu judulnya Capra oleh Titik Kartitiani ! Kau tentunya kenal bukan dengan nama penulis itu. Kontan Ibu menjerit (padahal lagi sepi tuh). Lalu ibu mendapat selamat dari tetangga kursi, yang Ibu tidak kenal.
Sayang, Maudy membacakannya dengan bagus sekali. Ibu sampai haru dan..yah walaupun bukan juara satu, impian Ibu tercapai. Berdiri di panggung itu...(waktu kamu masih dalam perut Ibu, kita juga ke tempat ini. Menyaksikan pengumuman novel DKJ. Dan kau tahu...Ibu tidak disebut-sebut hehehe). Terima kasih ya Allah...thanks.
Kemenangan ini kupersembahkan untukmu, Sayangku..yang telah menemani Ibu dengan tawa dan tangismu. Untuk Mas...Adik menang, besok kalau pulang, adik traktir yah. O ya, untuk Mas Fajar, thanks telah menjadi sahabat, dimanapun berada. Fazza, Faya..kau pasti bangga punya Ayah seperti dia.
Catatan di Balik Layar: Pagi sebelum berangkat, ibu mengelem sepatu Ibu. Sepatu sandal ala Mak Lampir itu bersejarah. Dibeli tahun 2003 silam. Dan sengaja ingin Ibu kenakan di saat bersejarah. Eh, ternyata lem yang digunakan salah. Waktu mau naik panggung, perlahan lem-nya copot. Bisa dibayangkan bagaimana groginya Ibu, Nak. Begitu ada di kursi, Ibu kehilangan keseimbangan dan terduduk di pangkuan cowok yang tadi ngasih selamat Ibu. Huhuhu..cewek sebelahnya cemberut. Maaf. Mbak..siapanpun Anda, sungguh saya tidak sengaja. Kesimpulannya, jangan mengelem sepatu dengan lem Fox karena lem putih itu sebenarnya lem kayu. Anda bisa memilih dengan lem tikus.