Sabtu kemarin adalah hari yang berwarna bagiku. Diawali saya menjemput teman saya yang jauh - jauh datang dari Malang,menginap di Hotel Istana Nelayan (hehehe, saya baru tahu di Tangerang ada hotel juga). Sebenarnya sudah 3 hari dia ada di Jakarta untuk menyelesaikan urusan bisnisnya dengan perusahaan 'perusak lingkungan' (hahaha, sori ya Mas Heri, whatever it take, congrat with your S2 !).Karena dia belum minat pulang, saya ajaklah liputan (tepatnya main) ke rumah Pak Greg (Gregori G. Hambali).
Barangkali, kalau bukan orang yang berkecimpung di tanaman, nama beliau cukup asing. Yang jelas, Pak Greg itu ilmuwan tingkat dunia yang 'tak mendapat tempat' di negeri ini. Bertemu dengannya bagi saya seperti kuliah 5 tahun di Pertanian. Saya setia meliput dia sedari tahun 2003, hingga kini. Bagi saya, dia sudah menjadi seperti ayah saya, dosen saya, tempat saya menanyakan banyak hal terutama tentang tanaman, tapi tidak tentang Tuhan dan agama. Yah, begitulah..selalu ada yang baru bila saya datang ke tempat ini, apalagi di kebunnya yang seluas 3.000 m dimana tersimpan tanaman unik dari seluruh dunia. Saya begitu ,menikmati ngobrol dengannya ditemani setandan pisang (bener-bener setandan). Satu yang kuingat dari kata - katanya "Kamu harus menulis yang bermutu, agar orang mendapat sesuatu, inspirasi dari membaca tulisanmu."
Tak dinyana, teman saya ini penelitiannya sama dengan Pak Greg, tentang ubi jalar. jadilah, mereka berdua yang ahli pemuliaan tanaman larut dalam diskusi ilmiah. Tak dinyana pula, teman saya ini agak tak biasa jua (untuk tidak mengatakan sinting). Dia sepakat dengan Pak Greg "Ya, surga dan neraka itu untung - untungan. Siapa tahu memang ada, jadi kita juga enggak rugi berbuat baik seperti yang disyaratkan untuk masuk surga." No Comment.
Pulangnya, ke stasiun Gambir, teman saya ini ngotot pengin naik kereta. saya sudah pesankan tiket, tapi saya lupa, tiket tersebut atas nama saya. Karena butuh untuk admisnistrasi perusahaan, tiketnya harus diganti nama bersangkutan. Hemm..sayapun harus berurusan dengan pihak stasiun kereta. Pihak stasiun kereta itu identik dengan kata tidak menyenangkan. Percayalah. Saya minta teman saya ini duduk manis saja, sayapun ambil napas panjang. Begini kronologisnya.
Saya tanya ke petugas berseragam biru dengan topi putih, di lenganya tertulis PROV yang amboy...gagah nian. Jawabannya segagah yang saya kira (dan saya sudah hafal betul).
GAK BISA ! GAK BISA DIGANTI (Huruf besar ini sebagai visualisasi nada yang sama dengan ketika Anda mengucapkan "GO TO HELL atau PERGI KAU PENGEMIS, Anda mengerti kan ?") Kembali saya ambil napas sepanjang mungkin.
"
Bapak ada saran ?" tanya saya dengan sesopan mungkin diikuti senyum.
"
TANYA KE LOKET " ( Ini identik dengan TEGAK SENJATA...GRAKKK)
Sayapun menuju petugas loket. Perlu Anda tahun kata petugas loket itu sama artinya dengan tugu batu, beku dan syaraf senyumnya sudah rusak terlindas roda kereta api. Sungguh.
Setelah mengantri barang 8 - 10 peserta, dimana ada dua kunyuk yang nyerobot. saya pun berhadapan dengan petugas. Sebelumnya saya sudah ambil napas panjang dulu, berharap oksigen bisa memperlebar hati saya hingga lapang.
"N
GGAK BISA. DALAM ATURAN, HANYA JAM DAN KERETA YANG BOLEH DIGANTI !! (Huruf besar di sini sebagai simbol bahwa kata - kata diucapkan dengan kekuatan penuh. Agaknya baterei petugas itu habis dicharge)Saya pun tersenyum.
"
Terus saran Bapak bagaimana ?""
HARUS GANTI TIKET"(Lalu teman saya yang tiba-tiba ikut nimbrung langsung setuju)
"E
h tunggu dulu, kalau ganti tiket itu artinya bayar lagi kan ?""YA IYA. NGEPRINT TIKET LAGI. "
"
Lalu tiket lama mau diapain Pak ? Dikasih ke calo ?" (Alot)
"
KALAU GITU, BAYAR Rp 125.000, nanti saya print lagi" (125 ribu itu artinya stengah dari harga tiket. Setara dengan 10 kali makan)Teman saya langsung setuju, tapi saya bilang NO WAY !!
"
Pak, bayar 125 ribu itu aturan darimana ? Atau aturan yang bapak bikin barusan ?Boleh saya ketemu dengan kepala stasin ?Atau petugas administrasi ?"
NGGAK ADA KEPALA STASIUN. SEMUA UDAH PULANG""Yan
g benar Pak. Jadi tidak ada yang bertanggung jawab di stasiun ini sekarang ?"tanya saya dengan senyum.
Petugas itu kehabisan kata-kata. Lalu saya disuruh bertanya ke para lelaki gagah tadi dimana letak ruang adminitrasi.
"
Terima kasih, Pak. Bapak tahu enggak..sebenarnya Bapak itu cakep loh. Sayang enggak bisa senyum...jadinya mirip hantu" komentar saya sembari berlalu. Saya tidak menyempatkan diri untuk melirik lagi.
Ketika saya kembali ke lelaki gagah berseragam biru itu, jawaban pahit masih saya dapatkan. Tetapi saya hanya senyum dan senyum. Hingga saya menghadap petugas adminitrasi, nama diganti dan dicap stasiun hanya dalam 3 detik. Begitu keluar, saya melewati petugas berseragam biru tadi.
"Gimana, bisa " (Anda lihat, nadanya sudah beda"
"Bisa"
"Gimana caranya"
"Ada capnya kepala stasiun"
"ITU BUKAN KEPALA STASIUN"
"Ada kok, gak percaya..check aja" kata saya yakin. Saya lihat keraguan di wajah lelaki gagah tadi. Nah, lo..."MAU TAUUUUU AJAHHHH" kata saya sembari mengibaskan rambut.
Keluhan semacam ini sudah saya tulis di sini beberapa waktu lalu. Sempat juga saya berniat menulis di Kompas. Tapi entahlah, saya merasa itu sia - sia saja. Saya hanya berdoa dan doa saya memang tidak nasionalis "Ya Tuhan, datangkanlah investor asing yang berinves di Kereta Api. Agar PT KAI ada saingan. Jangan lupa Tuhan, datangkan pula dokter bedah ahli, yang bisa mengoprasi semua petugas kereta api hingga mereka bisa senyum kembali. Amin" Dan Anda seharusnya juga mengamini doa saya.