
Seminggu ini, hidup saya serasa unik dan nyentrik. Dari mulai menunggu kepulangan suami saya yang katanya akan pulang minggu ini (Waduh, Sayang... datanya belum kelar dientry.Terus?Ya, ditunda awal bulan.Hiks. Ya udah deh, Mas... yang penting tidak menikah dengan gadis desa yang lugu dan lupa pernah nikah sama saya. O, santai saja...tidak banyak kok yang mau sama aku, kecuali kamu. Oh, syukurlah)
Masih berurusan dengan tunggu menunggu, seorang kawan (saya menyebutnya kawan saja,walo lebih tepat disebut 'suhu'alias guru)datang dari Prabumulih, Bang Sutan Iwan Soekri Munaf, datang ke Jakarta. Setelah menyesuaikan jadwalnya yang luar biasa sibuk dengan jadwal saya yang sok sibuk, akhirnya disepakati kita ketemuan hari kamis, 6 hari setelah beliau ada di Jakarta. Kebetulah ada mbak Fanny Poyk juga merencanakan bertemu. Entahlah, begitu semangatnya saya menunggu hari itu, sampai saya coret hari demi hari yang saya lalui (ini salah satu bentuk kesintingan yang kadang ga masuk akal).Akan banyak yang akan saya tanyakan. Akan banyak yang akan kami obrolkan. Tahu apa yang terjadi ? Tepat 24 jam sebelum hari H, kabar yang membuatku ternganga sekaligus ketawa "Aduh, Nduk... saya sakit xxxxx. Beneran,Abang tidak bohong." Sakit itu sengaja diberi tanda xxxxx,karena sakit ini memang benar sakit tapi sakit yang bikin ketawa orang yang mendengar. Setara dengan sakit gigi deh.(Bang Iwan, komentar Mas Gi'..Wan..wan, sakitmu kok memalukan gitu. Memangnya kamu ngapain aja hahahaha).
Di sela - sela tunggu menunggu, sayapun bekerja (sungguh kok, bos. Saya tetap wartawan telad-an hahaha)Di tengah kemelutnya harga BBM, demo mahasiswa (Heh, Rif..Arif Nurhayadi BEM Faperta 2000, masih idup kagak lu ?Jadi ingat, kamu ya yang menjerumuskan aku sampai terkapar tidur di bawah air mancur gedung DPR dengan uang Rp 9.300,- di jas almamater biru langitku itu, uang sisa beli mie ayam Pak Ho untuk menempuh Solo-jakarta. Awas ya kalau kamu ternyata duduk manis jadi pejabat. Gua kutuk ambien berat !!).Nah, pekerjaan saya itu meliput sebuah pameran bunga internasional. Persertanya para ibu kelas atas dengan sanggul menjulang (kata teman saya - lady coffe morning).Suasananya demikian megah, kontras dengan suasana di pagar gedung parlemen. Tahu enggak, pembaca yang budiman...saya tidak mimpi buruk malam sebelumnya, tidak melakukan hal yang tidak senonoh, kenapa hari itu sial bener.
Pertama, saya tidak dapat celah wawancara tokoh - tokohnya sama sekali. Karena memang tokohnya itu orang asing (bc Amerika). Alhasil, saya hanya mendengarkan dari luar ring sambil mencatat secepat mungkin. Ada ibu - ibu, one of lady coffe morning, menanyakan :
"Emang kamu tahu artinya apa ?" Oh huhuhuhu
"Ehmm...sedikit, Bu." Jujur saya jengkel berat. Tampang saya memang khas Klaten (The megapolitan city hehehe), tapi untuk mengerti ucapan bule, apalagi tentang po'on (bc: taneman) tidak sesulit saya mengartikan teks original sajaknya Shakespeare. Tetapi kejengkelan saya mendapat jawaban saat itu juga, ketika si bule justru mendekati saya dan saya bisa wawancara dengannya, lamanya dua kali lipat waktu yang dijadwalkan untuk wartawan lain. Bule itu mau menerima siapa saja, tak peduli tampang. Apakah ini yang membuat negara lain melangkah lebih cepat dari negeri ini ?Bahkan secara enggak sadar, justru saya beri tahu lebih banyak ilmu tanaman daripada si bule itu. Hah, look at me. Im Indonesian people, agraris country. I proud of my self as a farmer. Really farmer, not Indonesian Farmer Society (bc : HKTI/Himpunan Kerukunan Tani Indonesia)
"Oh, kamu bisa juga toh ngomong sama dia. Tahu betul kamu tentang tanaman" komentar ibu itu. Ah, telat bu...ini ni Bu, tampang Klaten, tampang po'on!
Ada satu lagi hidup saya yang berwarna minggu ini. Ketika saya bertemu dengan seorang kawan (kali ini saya takkan sebut namanya) di sebuah diskusi para sastrawan hebat. Seorang kawan yang mengaku pernah kena pelecehan seksual. Lalu menjadi trauma dengan laki - laki. Pelampiasannya justru dia bisa jatuh cinta dengan lelaki yang usianya jauh di atasnya, sangat jauh, bahkan kalau diusut itu seusia dengan kakeka saya. Bayangkan kalau laki - laki yang pernah dicintai itu kini usianya 77 tahun. Ia mencari figur pelindung. Saya benar - benar tak menyangka, dia yang tulisannya begitu berat, di majalah sastra yang berbahasa berat, hidupnya berat juga. Dia yang wajahnya tak berdosa, polos dan begitu belia (ternyata seumurku).
Tiba - tiba saya menjelma menjadi dirinya, bagaimana saya dulu pernah begitu terpesona dengan 'dunia intektual' yang mengawang - awang. Ranah ideal yang diobrolkan hingga ampas kopi-pun tertelan hingga butir terakhir. Saya pernah hidup di sana walau tak persis sama. (Sekali lagi Rif, kalau kamu baca tulisanku ini, dimanapun kamu berada, tapi kuharap bukan muncul di Patroli ya, kamu harus berjanji untuk mengembalikan 'hidup saya' yang kau comot hingga terdampar di perempatan Gladag, lengkap dengan slogan - slogan 'sinting' itu, hah!)Kesimpulannya, kalau mau 'sembuh' dan 'normal', come to the riil world. Standing on the earth. Stop be lady of heaven...
Tetapi satu yang aku acungi jempol dari kawan tadi, ia tetap berdiri. Selalu membuat dirinya bersinar. "Gue ingin tunjukkan, Tik...gue tetap ada. Gue tetap layak dihargai dengan karya - karya gue, bukan dikenang dari masa lalu gue. Soalnya kalau gue mo nuntut pada orang yang melecehkan itu, sama saja gue bunuh diri. Dia pegang kartu As gue." Saya jadi beku. Kau hebat, kawan...
Catatan Untuk Sausan :Sayang, kini kamu mulai tahu siapa ibumu. Makanya, setiap ibu berangkat kerja harus pakai ritual : menggendongmu hingga pintu gerbang, cium pipi kanan, cium pipi kiri lalau kamu bilang daaaaa sambil memutar pergelangan tangan kirimu.Jadi, ibu enggan pergi. Btw, Sayang...ada puisi indah yang ditulis oleh penyair hebat di negeri ini, hanya untukmu, Sausan. Kalau sudah tahu, akan ibu kasih tahu. Ayah saja enggak punya loh...